Mengapa Pernikahan Jawa Memakai Rangkaian Bunga Melati Pada Keris Yang Dipakainya ?

on 14:27

Apa kabar semua ?

Agak lama, aku tidak pernah posting artikel baru. Kali ini posting, tapi judulnya kok panjang banget ya ?

Bingung mau cari judul yang pendek, ya akhirnya inilah yang pas menurut aku.


Mengapa Pernikahan Jawa Memakai Rangkaian Bunga Melati Pada Keris Yang Dipakainya ?

Kisahnya begini .............

Orang jawa pasti tidak asing dengan kisah yang satu ini.

Suatu saat tombak Kyai Pleret yang dipakai Sutawijaya mengenai lambung Arya Penangsang, hingga ususnya terburai.

Arya Penangsang dengan sigap, menyangkutkan buraian ususnya itu pada wrangka atau sarung-hulu keris yang terselip di pinggangnya, dan terus bertempur. Saat berikutnya , Sutawijaya terdesak hebat dan kesempatan itu digunakan oleh Arya Penangsang untuk segera penuntaskan perang tanding tersebut, dengan mencabut keris dari dalam wrangka atau ngliga keris (menghunus), dan tanpa sadar bahwa wilah(an) atau mata keris Kyai Setan Kober langsung memotong ususnya yang disangkutkan di bagian wrangkanya. Ia tewas seketika.

Sutawijaya terkesan menyaksikan betapa gagahnya Arya Penangsang dengan usus terburai yang menyangkut pada hulu kerisnya. Ia lalu memerintahkan agar anak laki-lakinya, kalau kelak menikah meniru Arya Penangsang, dan menggantikan buraian usus dengan rangkaian atau ronce bunga melati, dengan begitu maka pengantin pria akan tampak lebih gagah, dan tradisi tersebut tetap digunakan hingga saat ini.

Sumber : wikipedia.org (Linknya lupa..........) dengan beberapa penambahan diawal artikel.
Read More...

Goa Seplawan : Pesona Alam dan Peninggalan Purbakala

on 22:46

Celah tebing tinggi mengapit anak-anak tangga menuju mulut Goa Seplawan yang berada di salah satu puncak Pegunungan Menoreh di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Ratusan anak tangga membantu pengunjung meniti jalan menurun menuju mulut goa yang dipenuhi stalaktit dan stalagmit itu.

Pegunungan purba yang telah terbentuk sejak puluhan juta tahun itu terbentang mulai dari Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, hingga Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Proses evolusi alam telah membentuk permukaan pegunungan itu sedemikian rupa sehingga menghadirkan sebuah keajaiban panorama alam. Pada puncak-puncak pegunungan tersebut terdapat sejumlah goa, seperti Goa Kiskendo di Kulon Progo, Goa Seplawan di Purworejo, dan sejumlah goa buatan hasil kebudayaan masa purba lainnya di sekitar Purworejo.

Goa Seplawan yang berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut cukup menawan. Mulut goa itu menyerupai corong yang melebar di bagian atas dan menyempit di bagian leher. Permukaan mulut goa yang melebar dan cukup landai itu secara evolutif mengalami pelebaran terus-menerus akibat erosi. Erosi yang terjadi pada mulut goa, misalnya, langsung "ditelan" oleh leher goa yang berbentuk tegak lurus, menyerupai sumur. Diameter leher goa itu mencapai 15 meter, dengan kedalaman sekitar 12 meter.
Dahulu tidak mudah untuk mencapai Goa Seplawan. Baru beberapa tahun belakangan ini orang bisa menjelajahinya dengan mudah. Sebelum ditata, dasar goa itu berlumpur dan berair sehingga sulit dijelajahi. Ruangan di dalamnya pun gelap. Namun, sekarang Pemerintah Kabupaten Purworejo telah membangun jalan setapak, selain menyediakan penerangan di dalam goa sehingga wisatawan dapat menikmati lokasi itu dengan nyaman.

Pembangunan fasilitas tersebut tak sekadar mempertimbangkan keindahan goa, melainkan lebih dari itu, yakni karena Goa Seplawan juga meninggalkan jejak-jejak sejarah peradaban kuno. Pada salah satu altar di dinding goa itu—karena memang ada bagian-bagian datar yang menyerupai altar pada dinding goa—ditemukan arca emas setinggi lebih kurang 9 sentimeter, dengan kadar emas 22 karat. Arca itu terdiri atas sepasang pria dan wanita yang sedang bergandengan tangan.

Diyakini, arca tersebut adalah Dewa Siwa dan Dewi Badrawati. Kini arca emas tersebut disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Sebagai tanda bahwa arca tersebut ditemukan di Goa Seplawan, maka didirikanlah replika arca di depan mulut goa. Replika arca itu dibangun dengan ukuran jauh lebih besar dari ukuran aslinya sehingga menyerupai monumen.

Sepasang dewa-dewi

Arkeolog dari Universitas Gadjah Mada, Soekatno TW, memperkirakan arca emas itu adalah sepasang dewa dan dewi. Hal itu, katanya, ditandai dengan pasangan yang mengenakan pakaian lengkap dengan chattra, bahkan dengan prabha di sekitar kepalanya. Selain itu, ditemukan pula lingga-yoni di samping mulut goa. Pasangan lingga-yoni itu menyerupai alu dan lesung yang menyimbolkan laki-laki dan perempuan.

Temuan arca lingga-yoni, menurut Soekatno, memberikan petunjuk bahwa pasangan dewa-dewi tersebut merupakan peninggalan Hindu Siwa, yang diduga menggambarkan Siwa-Parwati atau arca perwujudan raja dan permaisuri dalam bentuk Siwa-Parwati. Temuan-temuan tersebut, lanjut Soekatno, diperkirakan sezaman dengan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, yakni sekitar abad ke-9 Masehi. Perkiraan itu didasarkan pada sejumlah temuan penyerta yang ada di goa tersebut, yang juga digambarkan pada relief Candi Borobudur.

Temuan lain yang dijumpai pula di Goa Seplawan adalah jejak-jejak fosil kerang berukuran 5 cm-15 cm. Jejak-jejak fosil itu dapat ditemui pada dinding goa dan, menurut laporan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah, hal itu merupakan hasil proses terangkatnya daerah sekitar Pegunungan Menoreh ke permukaan laut. Diperkirakan, temuan itu merupakan jejak-jejak fosil kerang laut. Di tempat itu ditemukan juga jejak fosil berbagai jenis ikan asal Sumatera Barat yang menempel pada dinding goa. Binatang itu diduga pernah hidup di dasar laut pada masa Eosen, sekitar 40 juta tahun yang lalu.

Meski di dalam Goa Seplawan ditemukan sejumlah benda-benda bersejarah, diperkirakan goa itu bukan tempat hunian, hanya dijadikan sebagai situs pemujaan. Goa tersebut merupakan tempat pemujaan bagi kalangan penguasa atau raja yang telah mengundurkan diri dari aktivitas duniawi. Perkiraan bahwa goa tersebut bukan tempat hunian karena di dalamnya kurang cahaya, bahkan sirkulasi udaranya pun tidak terlalu menyegarkan. Lantai goa yang berbentuk tanah basah dan selalu dialiri air pun membuat lokasi itu tidak nyaman untuk dijadikan tempat tinggal.


Tiga goa lain

Di sekitar itu ada juga tiga goa lainnya, yakni di Desa Kesawen, Kecamatan Pituruh, dan Desa Kali Glagah, Kecamatan Kemiri. Menurut Eko Riyanto, Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Purworejo, ketiga goa tersebut juga diperkirakan digunakan sebagai situs pemujaan dari masa yang sama dengan Goa Seplawan karena di sana juga ditemukan sejumlah lingga-yoni.

Hanya saja, jarak ketiga goa itu relatif lebih dekat dari pusat kota Purworejo dibandingkan dengan Goa Seplawan. Jarak ketiga goa itu hanya 20 kilometer dari kota Purworejo. Sebaliknya, jarak Goa Seplawan dari kota Purworejo mencapai 40 kilometer. "Makanya, agak sulit juga untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Goa Seplawan itu. Jaraknya cukup jauh. Lagi pula, jalan menuju goa itu cukup curam dan berkelok-kelok meski sudah diaspal semua," ujar Eko.

Jumlah pengunjung Goa Seplawan setiap bulannya hanya sekitar 300 orang-400 orang. Jumlah ini biasanya meningkat pada masa liburan, seperti pada masa Lebaran. Oleh karena itu, harga tiket masuk ke Goa Seplawan yang Rp 1.000 pun tak pernah dinaikkan. "Sudah murah saja masih sedikit yang mengunjungi, apalagi kalau mahal," tutur Eko.

Apa pun alasannya, tidak rugi menempuh perjalanan panjang ke goa tersebut sebab kita akan menikmati pemandangan alam dan peninggalan sejarah yang berarti.

Kompas, 24 November 2006

Sumber : http://bloggerkemiri.blogspot.com tanpa perubahan.
Read More...

Evolusi Komputer

on 13:48



Lucu, lucu......... hahahaha........ Read More...

Kuda Lumping

on 10:49

Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog. Meskipun tarian ini berasal dari Jawa, Indonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Malaysia dan Singapura.

Kuda lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sejarah

Konon, tari kuda lumping merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.

Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.
Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada jaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.

Variasi Lokal

Di Jawa Timur, seni ini akrab dengan masyarakat di beberapa daerah, seperti Malang, Nganjuk, Tulungagung, dan daerah-daerah lainnya. Tari ini biasanya ditampilkan pada event-event tertentu, seperti menyambut tamu kehormatan, dan sebagai ucapan syukur, atas hajat yang dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

Dalam pementasanya, tidak diperlukan suatu koreografi khusus, serta perlengkapan peralatan gamelan seperti halnya Karawitan. Gamelan untuk mengiringi tari kuda lumping cukup sederhana, hanya terdiri dari Kendang, Kenong, Gong, dan Slompret, yaitu seruling dengan bunyi melengking. Sajak-sajak yang dibawakan dalam mengiringi tarian, biasanya berisikan himbauan agar manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan selalu ingat pada Sang Pencipta.

Selain mengandung unsur hiburan dan religi, kesenian tradisional kuda lumping ini seringkali juga mengandung unsur ritual. Karena sebelum pagelaran dimulai, biasanya seorang pawang hujan akan melakukan ritual, untuk mempertahankan cuaca agar tetap cerah mengingat pertunjukan biasanya dilakukan di lapangan terbuka.



Pagelaran Tari Kuda Lumping

Dalam setiap pagelarannya, tari kuda lumping ini menghadirkan 4 fragmen tarian yaitu 2 kali tari Buto Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon Putri.
Pada fragmen Buto Lawas, biasanya ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari. Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan menari mengikuti alunan musik. Pada bagian inilah, para penari Buto Lawas dapat mengalami kesurupan atau kerasukan roh halus. Para penonton pun tidak luput dari fenomena kerasukan ini. Banyak warga sekitar yang menyaksikan pagelaran menjadi kesurupan dan ikut menari bersama para penari. Dalam keadaan tidak sadar, mereka terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan para penari lainnya.
Untuk memulihkan kesadaran para penari dan penonton yang kerasukan, dalam setiap pagelaran selalu hadir para datuk, yaitu orang yang memiliki kemampuan supranatural yang kehadirannya dapat dikenali melalui baju serba hitam yang dikenakannya. Para datuk ini akan memberikan penawar hingga kesadaran para penari maupun penonton kembali pulih.

Pada fragmen selanjutnya, penari pria dan wanita bergabung membawakan tari senterewe.

Pada fragmen terakhir, dengan gerakan-gerakan yang lebih santai, enam orang wanita membawakan tari Begon Putri, yang merupakan tarian penutup dari seluruh rangkaian atraksi tari kuda lumping.


Sumber dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Read More...

Bahasa Jawa di Suriname

on 10:52

Bahasa Jawa Suriname merupakan ragam atau dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Suriname dan oleh komunitas Jawa Suriname di Belanda. Jumlah penuturnya kurang lebih ada 65.000 jiwa di Suriname dan 30.000 jiwa di Belanda. Orang Jawa Suriname merupakan keturunan kuli kontrak yang didatangkan dari Tanah Jawa dan sekitarnya.

Selayang pandang
Pada akhir abad ke-19, pemerintah Belanda yang menguasai Suriname di Amerika Selatan memerlukan kuli-kuli untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan. Sebelumnya, pekerjaan ini dilakukan oleh para abdi atau budak Negro dari Afrika. Namun, setelah perbudakan dihapuskan pada pertengahan abad ke-19, orang-orang Negro, yang disebut sebagai orang Kreol Suriname, meninggalkan perkebunan dan berduyun-duyun ke kota-kota di Suriname. Untuk mengganti para kuli perkebunan, orang Belanda meminta pertolongan Inggris. Suriname kemudian menjadi jajahan Britania Raya. Sekali waktu, pernah didatangkan orang Tionghoa. Orang Inggris kemudian mendatangkan sejumlah kuli kontrak dari Raj Britania (kini India). Pada akhirnya, orang Belanda takut akan orang Inggris dan tak mau lagi bergantung kepada mereka.

Barulah pemerintah Belanda mencoba mengganti atau menambah orang-orang India, disebut orang Hindustan Suriname, dengan orang-orang dari Hindia-Belanda (kini Indonesia); yakni orang Jawa. Orang-orang Jawa ini kebanyakan diambil dengan sistem razia dan dipaksa dikapalkan ke Suriname. Namun pada akhirnya diberi kontrak yang harus diteken, meskipun sebenarnya mereka kebanyakan adalah petani dan buruh kasar yang tuna aksara.

Pada gilirannya, program 'transmigrasi' dari Hindia-Belanda ke Suriname ini termasuk sukses. Antara tahun 1890–1939, terdapat lebih dari 33.000 jiwa orang Jawa yang dibawa ke Suriname. Jika Perang Dunia II tidak meletus, tentulah akan lebih banyak suku Jawa yang dibawa ke sana.

Latar belakang orang Jawa di Suriname
Tak semua penduduk Hindia-Belanda yang dibawa ke Suriname itu etnis Jawa. Selain orang Jawa juga terdapat suku Sunda, Madura, dll. Namun karena mayoritas kuli kontrak itu adalah etnis Jawa, suku-suku selain Jawa berasimilasi sebagai orang Jawa.

Dilihat dari asalnya, kurang lebih 70% orang Jawa berasal dari Jawa Tengah, 20% dari Jawa Timur dan 10% dari Jawa Barat. Kurang lebih 90% termasuk etnis Jawa; 5% Sunda; 2,5% Madura dan 2,5% suku lain, termasuk juga orang-orang dari Batavia (kini Jakarta.

Di antara suku Jawa tersebut, mayoritas berasal dari Karesidenan Kedu (Kabupaten Magelang dan sekitarnya). Itulah sebabnya, bahasa Jawa yang dituturkan di Suriname mirip dengan bahasa Jawa Kedu. Bahasa selain Jawa seperti Sunda, Madura sudah tak dituturkan lagi, dan tak memberi pengaruh apapun terhadap bahasa Jawa yang dituturkan di Suriname. Walaupun demikian, terdapat pula beberapa kata Melayu, dan kata-kata tersebut memang sudah ada dalam bahasa Jawa masa itu sebelum dibawa ke Suriname.

Dialek bahasa Jawa di Suriname
Di Suriname hanya terdapat 1 dialek Jawa. Namun, adanya varian-varian kata menunjukkan bahwa di masa lalu para migran Jawa itu menuturkan sejumlah dialek yang berbeda.
Di Suriname juga pernah ada penutur bahasa Banyumasan (ngapak-ngapak). Sayangnya, bahasa ini dianggap tidak baik dan penuturnya sering dihina. Akibatnya, keturunan mereka tak lagi mempelajari dan menuturkan bahasa Banyumasan.

Pengaruh bahasa lain
Kosakata bahasa Jawa di Suriname banyak dipengaruhi oleh bahasa Belanda dan Sranan Tongo. Meskipun demikian, kedua bahasa tersebut tak mempengaruhi fonologi dan tata bahasa.
Kata-kata Sranan Tongo yang sudah diserap malah ada yang memiliki bentuk bahasa krama.

Fonologi
Fonologi bahasa Jawa di Suriname tak berbeda dengan bahasa Jawa baku di Tanah Jawa. Fonologi Dialek Kedu yang menjadi leluhur bahasa Jawa Suriname tak berbeda dengan bahasa Jawa baku.
Namun terdapat fenomena baru dalam bahasa Jawa Suriname, yakni perbedaan antara fonem dental dan retrofleks (/t/ dan /d/ vs. /ṭ/ dan /ḍ/) semakin hilang.

Ejaan
Bahasa Jawa Suriname memiliki cara penulisan yang berbeda dengan bahasa Jawa di Pulau Jawa. Pada tahun 1986, bahasa Jawa Suriname mendapatkan cara pengejaan baku. Tabel di bawah ini menunjukkan perbedaan antara sistem Belanda sebelum PD II dengan ejaan Pusat Bahasa di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kemudian fonem /a/ yang diucapkan seperti [a] ditulis "â". Sehingga, kata macan (harimau) ditulis mâtyân di Suriname.

Bahasa krama dalam bahasa Jawa Suriname
Dalam bahasa Jawa Suriname, terdapat juga basa krama (bahasa halus), namun tak lagi serupa dengan bahasa Jawa di Jawa. Bahkan generasi mudanya sudah banyak yang tak bisa menuturkan basa krama.

Terdapat 3 ragam bahasa Jawa di Suriname, yakni ngoko, krama dan krama napis. Krama di Jawa adalah madya dan krama napis adalah krama dan krama inggil.

Sumber : Wikipedia
Read More...

Hanacaraka, Akasara Jawa dan Seluk Beluknya

on 10:18

Hanacaraka atau dikenal dengan nama carakan atau cacarakan (bahasa Sunda) adalah aksara turunan aksara Brahmi yang digunakan atau pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Sunda, bahasa Bali, dan bahasa Sasak.

Aksara Jawa modern adalah modifikasi dari aksara Kawi dan merupakan abugida. Hal ini bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili dua buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "hari". Aksara Na yang mewakili dua huruf, yakni N dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "nabi". Dengan demikian, terdapat penyingkatan cacah huruf dalam suatu penulisan kata apabila dibandingkan dengan penulisan aksara Latin.

Klasifikasi

Aksara Jawa Hanacaraka termasuk ke dalam kelompok turunan aksara Brahmi, sebagaimana semua aksara Nusantara lainnya. Aksara ini memiliki kedekatan dengan aksara Bali. Aksara Brahmi sendiri merupakan turunan dari aksara Assyiria.

Kelompok aksara

Pada bentuknya yang asli, aksara Jawa Hanacaraka ditulis menggantung (di bawah garis), seperti aksara Hindi. Namun demikian, pengajaran modern sekarang menuliskannya di atas garis.
Aksara Jawa Hanacaraka memiliki 20 huruf dasar, 20 huruf pasangan yang berfungsi menutup bunyi vokal, 8 huruf "utama" (aksara murda, ada yang tidak berpasangan), 8 pasangan huruf utama, lima aksara swara (huruf vokal depan), lima aksara rekan dan lima pasangannya, beberapa sandhangan sebagai pengatur vokal, beberapa huruf khusus, beberapa tanda baca, dan beberapa tanda pengatur tata penulisan (pada).

Huruf dasar (aksara nglegena)

Pada aksara Jawa hanacaraka baku terdapat 20 huruf dasar (aksara nglegena), yang biasa diurutkan menjadi suatu "cerita pendek":
• ha na ca ra ka
• da ta sa wa la
• pa dha ([dha]) ja ya nya ([ɲa])
• ma ga ba tha ([ʈa]) nga ([ŋa])

Berikut ini adalah aksara nglegena:


Huruf pasangan (Aksara pasangan)

Pasangan dipakai untuk menekan vokal konsonan di depannya. Sebagai contoh, untuk menuliskan mangan sega akan diperlukan pasangan untuk "se" agar "n" pada mangan tidak bersuara. Tanpa pasangan "s" tulisan akan terbaca manganasega.
Tatacara penulisan Jawa Hanacaraka tidak mengenal spasi, sehingga penggunaan pasangan dapat memperjelas kluster kata.

Berikut ini adalah daftar pasangan:


Huruf utama (aksara murda)


Huruf Vokal Mandiri (aksara swara)


Huruf tambahan (aksara rèkan)


Huruf Vokal tidak Mandiri (Sandhangan)


Tanda-tanda Baca (pratandha)


Gaya Penulisan (Style, Gagrag) Aksara Jawa
Berdasarkan Bentuk aksara Penulisan aksara Jawa dibagi menjadi 3 yakni:
• Ngetumbar


• Mbata Sarimbag


• Mucuk eri

Berdasarkan Daerah Asal Pujangga/Manuskrip, dikenal gaya penulisan aksara Jawa :
• Jogjakarta


• Surakarta


• Lainnya


Aturan baku penggunaan hanacaraka

Penggunaan (pengejaan) hanacaraka pertama kali dilokakaryakan pada tahun 1926 untuk menyeragamkan tata cara penulisan menggunakan aksara ini, sejalan dengan makin meningkatnya volume cetakan menggunakan aksara ini, meskipun pada saat yang sama penggunaan huruf arab pegon dan huruf latin bagi teks-teks berbahasa Jawa juga meningkat frekuensinya. Pertemuan pertama ini menghasilkan Wewaton Sriwedari ("Ketetapan Sriwedari"), yang memberi landasan dasar bagi pengejaan tulisan. Nama Sriwedari digunakan karena loka karya itu berlangsung di Sriwedari, Surakarta. Salah satu perubahan yang penting adalah pengurangan penggunaan taling-tarung bagi bunyi /o/. Alih-alih menuliskan "Ronggawarsita" (bentuk ini banyak dipakai pada naskah-naskah abad ke-19), dengan ejaan baru penulisan menjadi "Ranggawarsita", mengurangi penggunaan taling-tarung.

Modifikasi ejaan baru dilakukan lagi tujuh puluh tahun kemudian, seiring dengan keprihatinan para ahli mengenai turunnya minat generasi baru dalam mempelajari tulisan hanacaraka. Kemudian dikeluarkanlah Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga gubernur (Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur) pada tahun 1996 yang berusaha menyelaraskan tata cara penulisan yang diajarkan di sekolah-sekolah di ketiga provinsi tersebut.

Tonggak perubahan lainnya adalah aturan yang dikeluarkan pada Kongres Basa Jawa III, 15-21 Juli 2001 di Yogyakarta. Perubahan yang dihasilkan kongres ini adalah beberapa penyederhanaan penulisan bentuk-bentuk gabungan (kata dasar + imbuhan).

Perubahan Aksara Pallawa ke Aksara-Aksara Nusantara


Untuk integrasi aksara jawa ke sistem informasi teknologi silahkan baca disini.

Sumber : Wikipedia
Read More...

Objek Wisata Kab. Purworejo

on 14:36

Pantai Ketawang
Terletak di wilayah kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo. Pintu masuk dari Desa Ketawang, namun wilayah pantai meliputi garis pantai sepanjang kurang lebih 3 km sampai pantai Pasir Puncu. Dapat di tempuh dari Kutoarjo 12 km, bisa juga dari arah Jogja dan Kebumen lewat jalur selatan.

Merupakan wilayah pantai pasir hitam dengan ombak dan angin yang besar. Tiap Idul Fitri, tempat ini ramai dikunjungi.

Pantai ini ramai karena ada semacam adat, kalau Lebaran, ada namanya "riyayan", lamanya satu pekan. Pada hari kedelapan dinamakan syawalan, hari penutup wisata. Selama 8 hari itu biasanya orang-orang menggunakannya untuk berwisata pantai bersama keluarga, bagi yang muda-muda, untuk cari kenalan.

Sebenarnya tempat ini biasa saja, masih butuh banyak penataan untuk dijadikan sebagai tempat wisata modern. Tempat yang panas dan tidak adanya peneduh menjadi salah satu ketidaknyamanan, namun hembusan angin pantai yang keras meringankan panasnya matahari.

Tak perlu repot membawa makanan, aneka warung menjual kupat tahu, mie ayam, bakso, sate, atau rames berjajar sepanjang pantai. Juga aneka minuman seperti dawet, es buah, atau teh.



Pantai Pasir Puncu
Terletak sekitar 2.5 km dari pantai Ketawang. Bisa dituju dengan jalan kaki menyusuri pantai. Bisa juga dengan mobil atau motor, melewati pinggiran 'hutan' bekas galian penambangan pasir besi.

Objek yang menarik, pantai terletak di muara sungai awu-awu, ada bekas dermaga buatan Belanda yang tak lagi digunakan. Dari dermaga ini kita akan menyaksikan ombak yang besar menabrak batu, mengakibatkan air naik ke udara. Di sini juga tempat yang cocok buat memancing.

Pantai Keburuhan
Terletak di Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol. Letaknya berseberangan dengan Pantai Pasir Puncu yang ada di Kecamatan Grabag. Untuk ke sana bisa menyeberang dengan perahu dari pantai pasir puncu, atau naik mobil dan motor, kendaraan sudah bisa ke pantai.

Pantai Siledok / Genjik
Berada di muara sungai rowo yang merupakan perbatasan Kabupaten Purworejo dengan Kabupaten Kebumen. Kalau Pasir puncu di batas timur Kecamatan Grabag, Siledok di batas barat Kecamatan Grabag, juga batas barat Kabupaten purworejo.

Objek berupa pantai pasir hitam, bangunan pengarah arus sungai (jeti) cocok buat memancing. Air payau. Untuk kesini silakan susuri jalan daendels dari Ketawang sekitar 8 km, sebelum ketemu jembatan, ada jalan masuk.

Sayang, ke empat pantai tersebut hanya ramai pada libur lebaran atau hari minggu puasa.

Pantai Jatimalang
Pantai Jatimalang yang terletak di Desa Jatimalang, Purwodadi luasnya ± 20 Ha banyak dikunjungi para wisatawan, dimana sampai dengan akhir tahun 2001 sekitar 7.000 orang. Peluang yang ditawarkan adalah Pembangunan Camping Ground, Arena Hiburan Anak, Hotel dan Rumah Makan, serta Sirkuit Three in One (pacuan Kuda, Road race dan Mottocross). Prasarana penunjang yang ada di Pantai Jatimalang adalah jalan desa hot mix, Fasilitas obyek sederhana seperti gasebo 2 unit, jalan paving dan penghijauan sekitar lokasi.

Artikel lain, pengalaman yang ditulis oleh Mbah Suro, veteran Pemadam Kebakaran. Semoga pembaca lebih bisa membayangkan pantai Jatimalang dengan cerita Mbah Suro yang membuai.



Geger Menjangan
Kawasan Geger Menjangan merupakan kawasan wisata alam, obyek utama yang banyak dinimkati pengunjung adalah keindahan Kota Purworejo dan Pantai Selatan dipandang dari ketinggian puncak bukit. Selain itu, kawasan Geger Menjangan masih menawarkan beberapa obyek rekreasi lainnya, yaitu taman permainan anak, kolam renang dan meja bilyard. Kolam renang dan taman pemancingan terletak di pintu masuk kawasan. Sedang meja bilyard berada di puncak bukit. Suguhan yang lebih dikhususkan untuk kawula muda adalah arena minicross, panjat tebing dan lokasi berbagai pertunjukan umum. Arena minicross berupa lahan cukup luas dengan kontur tanah yang sangat menantang. Di lokasi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk pertunjukan umum. Sedang panjat tebih telah dibuat secara permanen dengan konstruksi baja berketinggian 15 meter. Memandang keindahan panorama alam dari ketinggian itulah yang ditawarkan kawasan tersebut. Keindahan yang dapat dinikmati dengan biaya yang sangat murah dan mudah dijangkau. Keindahan panorama memang merupakan obyek pokok yang banyak disukai masyarakat, terutama para remaja. Untuk dapat menikmati indahnya panorama tersebut, pengunjung ditantang untuk berolah raga jalan kaki sejaun 1.800 m menyusuri jalan setapak yang telah dibangun dengan paving block.

Perjalanan dari pintu masuk obyek hingga puncak bukit memang cukup mengasyikkan. Wisatawan ditantang untuk membuktikan kehandalan tenaga dengan mendaki bukit yang tingginya sekitar 175 m di atas permukaan laun. Setelah sampai di puncak, wisatawan akan menemukan sebuah bangunan berukuran 6 x 10 meter, itulah gardu pemanfangan yang sengaja dibangun untuk menikmati keindahan Kota Purworejo dan Pantai Selatan. Keindahan tersebut akan menikmati secara lebih sempurna dikala cuaca cerah. Satu lagi tempat yang menarik di Kawasan Geger Menjangan adalah sebuah makam tua yakni makan Kyai Imam Puro. Konon merupakan cerita Kyai tersebut merupakan salah satu tokoh yang besar andilnya bagi keberadaan Kabupaten Purworejo. Bahkan karena besarnya andil Kyai Imam Puro, sampai-sampai sejarahnya pernah ditawarkan menjadi tonggak hari jadi Kabupaten Purworejo. Lokasi taman wisata Geger Menjangan terletak di timur laut Kota Purworejo. Masuk dalam wilayah Kelurahan Baledono Kabupaten Purworejo. Jaraknya hanya satu kilometer dari pusat kota. Tidak perlu kendaran angkutan umum untuk mencapainya. Dengan berjalan kaki justru terasa lebih nikmat. Sayangnya, kawasan seluas 20 hektar tersebut hingga kini masih ada kendala. Panduan tentang pola pengembangannya telah ada, berupa rencana tapak kawasan lengkap dengan berbagai programnya. Juga sudah ditetapkan dalam rencana umum tata ruang kota (RUTRK) dan rencana tata ruang wilayah (RTRW). Akan tetapi belum ada investor yang dengan sungguh0sungguh berani menanamkan modalnya untuk membuka usaha di kawasan ini.

Museum Tosan Aji
Museum Tosan Aji yang berada di Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo diresmikan pada tanggal 12 April 1987 oleh Gubernur Propinsi Jawa Tengah H. Ismail. Museum ini merupakan salah satu sarana untuk melestarikan warisan budaya nenek moyang yang terdiri dari keris, pedang, kudi cundrik. Tosan Aji diartikan masyarakat sebagai senjata terbuat dari logam besi yang mempunyai kedudukan terhormat pada pandangan mata masyarakat terutama pada masa lampau. Tema Museum tosan aji "Tosan Aji sebagai bukti kemampuan teknologi bangsa kita"

Bedug Kyai Bagelen di Masjid Jami' Purworejo
Merupakan bedug terbesar didunia. Di postingan sebelumnya sudah ditulis, baca disini.
Data-data teknis Bedug kyai Bagelen :

- Panjang rata-rata = 292 centimeter
- Garis tengah bagian depan = 194 centimeter
- Garis tengah bagian belakang = 180 centimeter
- Keliling bagian depan = 601 centimeter
- Keliling bagian belakang = 564 centimeter

Air terjun Sumongari di Kaligesing
Anda warga kaligesing? Punya data, foto, atau cerita mengenai air terjun Sumongari? Kirim saja kemari, mari promosikan ke dunia. Go purworejo global!

Dari berbagai sumber
Read More...