Hubungan Bagelen Dalam Sejarah Indramayu

on 21.55

Menurut babad dermayu dan hikayat yang rutun menurun dari rakyat bahwa penghuni pertama daerah indramayu adalah Raden Aria Wiralodra yang berasal dari daerah Bagelen Jawa Tengah Putra Tumneggung yang bernama Gagak Singalodra. Sejak kecil dia ingin membangun suatu Negara untuk diwariskan kelak pada cucu-cucunya.

Suatu masa raden Wiralodra menjalankan tapa brata dan semedi di perbukitan melaya di kaki gunung Sumbing, setalah melampaui masa tiga tahun ia mendapat wangsit “Hai Wiralodara, apa bila engkau ingin berbahagisa serta keturunanmu kela di kemudian hari, pergilah engkau kearah matahari tenggleam dan carilah sungai Cimanuk mana kala engkau telah tiba disana berhentilan dan tebanglan hutan belukar secukupnya untuk sebuah pedukuhan dan menetaplan di sana”

Demi melaksanakan wangsitnya Raden Wiralodra didampingi abdinya Ki Tinggil berangkat ke arah barat untuk mencari sungai Cimanuk suatu  senja sampailah mereka di sebuah sungai yang amat besar, Raden Wiralodra mengira sungai itu adalah Cimanuk maka bermalamlah disitu dan ketika pagi-pagj bangun mefeka melihat ada orang tua yang menequr mereka dan menanyakan tuiuan mereka. Raden Wiralodra menjelaskan apa maksud dan tujuannya perjalanan mereka, namun orang tua itu berkata “Hai cucuku, tuan telah tersesat, sungai ini  bukan Cimanuk yang tuan cari, adapun cimanuk telah terlewat yaitu terletak di sebelah timur, berjalanlah ke arah timur laut''. Setelah berkata, demikian orang tersebut lenyap dan orang tua itu menurut riwayat adalah Ki Buyut Sidum, Kidang penanjung dari Pajajaran.

Ki Sidum adalah seorang panakawan tumenggung Sri Baduga Yang hidup antara tahun 1474 – 1513 Kemudian Wiralodra dan Ki Tinggil  melanjutkan perjalanan menuju timur laut dan seterah berharj-hari berjalan mereka melihat sungai besar, Wiralodra berharap sungai tersebut adalah Cimanuk dan tiba-tiba dia melihat kebun yang indah namun pemilik kebun tersebut sangat congkak ampai Wiralodra tak kuasa mengendalikan emosinya ketika ia  hendak membanting pemilik kebun itu, orang itu lenyap hanya ada suara “Hai cucuku Wiralodra ketahuilah bahwa hamba adalah Ki Sidum dan sungai ini adalah sungai Cipunegara, sekarang teruskanlah perjalanan kearah timur, manakala menjumpai seekor kijang bemata berlian ikutilah dimana kijang itu lenyap maka itulah sungai cimanuk yang tuan cari, kelak tuan membabad hutan Cimanuk bertapalah jangan tidur karena hal itu penting untuk kebahagiaan anak cucu tuan di kemudian hari Mereka melanjutkan perjalan kembali bertemulah mereka dengan seorang perempuan bernama Dewi Larawana yang memaksa untuk di persunting Wiralodra namun Wiralodra menolaknya hingga membuat gadis itu marah dan menyerangnya. Wiralodra mengeluarkan cakranya kearah Larawana gadis itupun lenyap barsamaan dengan munculnya seekor kijang. Wiralodra segera mengejarnya kijang tersebut yang lari  ke arah  timur, ketika kijang  itu lenyap tampaklah sebuah sungai besar. Karena kelelahan Wiralodra tertidur dan bermimpi bertemu dengan Ki Sidum yang berkata, “Hai cucuku inilah hutan Cimanuk yang di cari, di sinilah kelak tuan bermukim. Setelah ada kepastian lewat mimpinya itu Wiralodra dan Ki Tinggil Segera membuat gubug dan membuka lading dan menetap di sebelah barat ujung sungai Cimanuk.

Akhirnya tersiarlah ke segenap pelosok bahwa di hutan Cimanuk telah berdiri sebuah pedukuhan. Pedukuhan Cimanuk tersebut makin hari makin banyak penghuninya pendatang terus berdatangan, diantaranya seorang wanita cantik yang membawa bibit- bibitan. Dia adalah Nyi Endang Dharma seorang wanita  paripurna yang kelak bersama-sama raden Wiralodra mengembangkan Indramayu. Karena kemahirannya dalam ilmu kanuragan maka telah mengundang pangeran Guru dari Palembang, dia datang ke lembah cimanuk beserta 24 muridnya untuk menantang Nyi Endang Darma semua tewas, yang selanjutnya dikuburkan yang sekarang terkenal dengan Makam Selawe

Melihat kejadian itu Ki Tinggil tergerak untuk melaporkannya kepada Raden Wiralodra yang saat itu sedang pulang ke Bagelen Karena merasa ketentraman penduduknya terusik, Raden Wiralodra pun  kembali ke Cimanuk. Setelah mendengar penjelasan dari Nyi Endang Darma, Wiralodra mengakui kebenaranya, namun, karena ingin menyaksikan langsung kehebatan Nyi Endang Darma, Raden Wiralodra turun untuk adu kesaktian dengan Nyi Endang Darma akhirnya Nyi Endang Darma kewalahan dengan serangan- serangan Wiralodra maka Nyi Endang Darma pun meloncat terjun kedalam  sungai Cimanuk dan mengakui kekalahannya Wiralodra mengajak pulang Nyi Endang Darma untuk bersama-sama melanjutkan pebangunan pedukuhan namun Nyi Endang Darma tidak mau dan hanya berpesan “Jika kelak tuan hendak memberi nama pedukuhan ini maka namakanlah dengan nama hamba, kiranya permohonan hamba ini tidak berlebihan karna hamba ikut andil yang tidak sedikit dalam usaha membangun daerah ini. Pada suatu saat yang telah ditentukan diresmikanlah pedukuhan Cimanuk tersebut, dalam sambutannya Wiralodra berkata .Untuk. mengenang jasa orang yang telah ikut membangun pedukuhan ini maka pedukuhan ini kami namakan DARMA AYU''

Peresmian pedukuhan Darma Ayu memang tidak jelas tanggal dan tahunnya namun berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada dan hasil penulisan - penulisan tim Peneliti menyimpulkan peristiwa tersebut terjadi pada hari jum'at kliwon, tanggal 1Sura 1449 atau 1 Muharam 934 yang bertepatan dengan 07 Oktober 1527 M

Sumber : http://kabindramayu.net

0 komentar:

Poskan Komentar