Hanacaraka, Akasara Jawa dan Seluk Beluknya

on 10.18

Hanacaraka atau dikenal dengan nama carakan atau cacarakan (bahasa Sunda) adalah aksara turunan aksara Brahmi yang digunakan atau pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Sunda, bahasa Bali, dan bahasa Sasak.

Aksara Jawa modern adalah modifikasi dari aksara Kawi dan merupakan abugida. Hal ini bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili dua buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "hari". Aksara Na yang mewakili dua huruf, yakni N dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "nabi". Dengan demikian, terdapat penyingkatan cacah huruf dalam suatu penulisan kata apabila dibandingkan dengan penulisan aksara Latin.

Klasifikasi

Aksara Jawa Hanacaraka termasuk ke dalam kelompok turunan aksara Brahmi, sebagaimana semua aksara Nusantara lainnya. Aksara ini memiliki kedekatan dengan aksara Bali. Aksara Brahmi sendiri merupakan turunan dari aksara Assyiria.

Kelompok aksara

Pada bentuknya yang asli, aksara Jawa Hanacaraka ditulis menggantung (di bawah garis), seperti aksara Hindi. Namun demikian, pengajaran modern sekarang menuliskannya di atas garis.
Aksara Jawa Hanacaraka memiliki 20 huruf dasar, 20 huruf pasangan yang berfungsi menutup bunyi vokal, 8 huruf "utama" (aksara murda, ada yang tidak berpasangan), 8 pasangan huruf utama, lima aksara swara (huruf vokal depan), lima aksara rekan dan lima pasangannya, beberapa sandhangan sebagai pengatur vokal, beberapa huruf khusus, beberapa tanda baca, dan beberapa tanda pengatur tata penulisan (pada).

Huruf dasar (aksara nglegena)

Pada aksara Jawa hanacaraka baku terdapat 20 huruf dasar (aksara nglegena), yang biasa diurutkan menjadi suatu "cerita pendek":
• ha na ca ra ka
• da ta sa wa la
• pa dha ([dha]) ja ya nya ([ɲa])
• ma ga ba tha ([ʈa]) nga ([ŋa])

Berikut ini adalah aksara nglegena:


Huruf pasangan (Aksara pasangan)

Pasangan dipakai untuk menekan vokal konsonan di depannya. Sebagai contoh, untuk menuliskan mangan sega akan diperlukan pasangan untuk "se" agar "n" pada mangan tidak bersuara. Tanpa pasangan "s" tulisan akan terbaca manganasega.
Tatacara penulisan Jawa Hanacaraka tidak mengenal spasi, sehingga penggunaan pasangan dapat memperjelas kluster kata.

Berikut ini adalah daftar pasangan:


Huruf utama (aksara murda)


Huruf Vokal Mandiri (aksara swara)


Huruf tambahan (aksara rèkan)


Huruf Vokal tidak Mandiri (Sandhangan)


Tanda-tanda Baca (pratandha)


Gaya Penulisan (Style, Gagrag) Aksara Jawa
Berdasarkan Bentuk aksara Penulisan aksara Jawa dibagi menjadi 3 yakni:
• Ngetumbar


• Mbata Sarimbag


• Mucuk eri

Berdasarkan Daerah Asal Pujangga/Manuskrip, dikenal gaya penulisan aksara Jawa :
• Jogjakarta


• Surakarta


• Lainnya


Aturan baku penggunaan hanacaraka

Penggunaan (pengejaan) hanacaraka pertama kali dilokakaryakan pada tahun 1926 untuk menyeragamkan tata cara penulisan menggunakan aksara ini, sejalan dengan makin meningkatnya volume cetakan menggunakan aksara ini, meskipun pada saat yang sama penggunaan huruf arab pegon dan huruf latin bagi teks-teks berbahasa Jawa juga meningkat frekuensinya. Pertemuan pertama ini menghasilkan Wewaton Sriwedari ("Ketetapan Sriwedari"), yang memberi landasan dasar bagi pengejaan tulisan. Nama Sriwedari digunakan karena loka karya itu berlangsung di Sriwedari, Surakarta. Salah satu perubahan yang penting adalah pengurangan penggunaan taling-tarung bagi bunyi /o/. Alih-alih menuliskan "Ronggawarsita" (bentuk ini banyak dipakai pada naskah-naskah abad ke-19), dengan ejaan baru penulisan menjadi "Ranggawarsita", mengurangi penggunaan taling-tarung.

Modifikasi ejaan baru dilakukan lagi tujuh puluh tahun kemudian, seiring dengan keprihatinan para ahli mengenai turunnya minat generasi baru dalam mempelajari tulisan hanacaraka. Kemudian dikeluarkanlah Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga gubernur (Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur) pada tahun 1996 yang berusaha menyelaraskan tata cara penulisan yang diajarkan di sekolah-sekolah di ketiga provinsi tersebut.

Tonggak perubahan lainnya adalah aturan yang dikeluarkan pada Kongres Basa Jawa III, 15-21 Juli 2001 di Yogyakarta. Perubahan yang dihasilkan kongres ini adalah beberapa penyederhanaan penulisan bentuk-bentuk gabungan (kata dasar + imbuhan).

Perubahan Aksara Pallawa ke Aksara-Aksara Nusantara


Untuk integrasi aksara jawa ke sistem informasi teknologi silahkan baca disini.

Sumber : Wikipedia
Read More...

Objek Wisata Kab. Purworejo

on 14.36

Pantai Ketawang
Terletak di wilayah kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo. Pintu masuk dari Desa Ketawang, namun wilayah pantai meliputi garis pantai sepanjang kurang lebih 3 km sampai pantai Pasir Puncu. Dapat di tempuh dari Kutoarjo 12 km, bisa juga dari arah Jogja dan Kebumen lewat jalur selatan.

Merupakan wilayah pantai pasir hitam dengan ombak dan angin yang besar. Tiap Idul Fitri, tempat ini ramai dikunjungi.

Pantai ini ramai karena ada semacam adat, kalau Lebaran, ada namanya "riyayan", lamanya satu pekan. Pada hari kedelapan dinamakan syawalan, hari penutup wisata. Selama 8 hari itu biasanya orang-orang menggunakannya untuk berwisata pantai bersama keluarga, bagi yang muda-muda, untuk cari kenalan.

Sebenarnya tempat ini biasa saja, masih butuh banyak penataan untuk dijadikan sebagai tempat wisata modern. Tempat yang panas dan tidak adanya peneduh menjadi salah satu ketidaknyamanan, namun hembusan angin pantai yang keras meringankan panasnya matahari.

Tak perlu repot membawa makanan, aneka warung menjual kupat tahu, mie ayam, bakso, sate, atau rames berjajar sepanjang pantai. Juga aneka minuman seperti dawet, es buah, atau teh.



Pantai Pasir Puncu
Terletak sekitar 2.5 km dari pantai Ketawang. Bisa dituju dengan jalan kaki menyusuri pantai. Bisa juga dengan mobil atau motor, melewati pinggiran 'hutan' bekas galian penambangan pasir besi.

Objek yang menarik, pantai terletak di muara sungai awu-awu, ada bekas dermaga buatan Belanda yang tak lagi digunakan. Dari dermaga ini kita akan menyaksikan ombak yang besar menabrak batu, mengakibatkan air naik ke udara. Di sini juga tempat yang cocok buat memancing.

Pantai Keburuhan
Terletak di Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol. Letaknya berseberangan dengan Pantai Pasir Puncu yang ada di Kecamatan Grabag. Untuk ke sana bisa menyeberang dengan perahu dari pantai pasir puncu, atau naik mobil dan motor, kendaraan sudah bisa ke pantai.

Pantai Siledok / Genjik
Berada di muara sungai rowo yang merupakan perbatasan Kabupaten Purworejo dengan Kabupaten Kebumen. Kalau Pasir puncu di batas timur Kecamatan Grabag, Siledok di batas barat Kecamatan Grabag, juga batas barat Kabupaten purworejo.

Objek berupa pantai pasir hitam, bangunan pengarah arus sungai (jeti) cocok buat memancing. Air payau. Untuk kesini silakan susuri jalan daendels dari Ketawang sekitar 8 km, sebelum ketemu jembatan, ada jalan masuk.

Sayang, ke empat pantai tersebut hanya ramai pada libur lebaran atau hari minggu puasa.

Pantai Jatimalang
Pantai Jatimalang yang terletak di Desa Jatimalang, Purwodadi luasnya ± 20 Ha banyak dikunjungi para wisatawan, dimana sampai dengan akhir tahun 2001 sekitar 7.000 orang. Peluang yang ditawarkan adalah Pembangunan Camping Ground, Arena Hiburan Anak, Hotel dan Rumah Makan, serta Sirkuit Three in One (pacuan Kuda, Road race dan Mottocross). Prasarana penunjang yang ada di Pantai Jatimalang adalah jalan desa hot mix, Fasilitas obyek sederhana seperti gasebo 2 unit, jalan paving dan penghijauan sekitar lokasi.

Artikel lain, pengalaman yang ditulis oleh Mbah Suro, veteran Pemadam Kebakaran. Semoga pembaca lebih bisa membayangkan pantai Jatimalang dengan cerita Mbah Suro yang membuai.



Geger Menjangan
Kawasan Geger Menjangan merupakan kawasan wisata alam, obyek utama yang banyak dinimkati pengunjung adalah keindahan Kota Purworejo dan Pantai Selatan dipandang dari ketinggian puncak bukit. Selain itu, kawasan Geger Menjangan masih menawarkan beberapa obyek rekreasi lainnya, yaitu taman permainan anak, kolam renang dan meja bilyard. Kolam renang dan taman pemancingan terletak di pintu masuk kawasan. Sedang meja bilyard berada di puncak bukit. Suguhan yang lebih dikhususkan untuk kawula muda adalah arena minicross, panjat tebing dan lokasi berbagai pertunjukan umum. Arena minicross berupa lahan cukup luas dengan kontur tanah yang sangat menantang. Di lokasi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk pertunjukan umum. Sedang panjat tebih telah dibuat secara permanen dengan konstruksi baja berketinggian 15 meter. Memandang keindahan panorama alam dari ketinggian itulah yang ditawarkan kawasan tersebut. Keindahan yang dapat dinikmati dengan biaya yang sangat murah dan mudah dijangkau. Keindahan panorama memang merupakan obyek pokok yang banyak disukai masyarakat, terutama para remaja. Untuk dapat menikmati indahnya panorama tersebut, pengunjung ditantang untuk berolah raga jalan kaki sejaun 1.800 m menyusuri jalan setapak yang telah dibangun dengan paving block.

Perjalanan dari pintu masuk obyek hingga puncak bukit memang cukup mengasyikkan. Wisatawan ditantang untuk membuktikan kehandalan tenaga dengan mendaki bukit yang tingginya sekitar 175 m di atas permukaan laun. Setelah sampai di puncak, wisatawan akan menemukan sebuah bangunan berukuran 6 x 10 meter, itulah gardu pemanfangan yang sengaja dibangun untuk menikmati keindahan Kota Purworejo dan Pantai Selatan. Keindahan tersebut akan menikmati secara lebih sempurna dikala cuaca cerah. Satu lagi tempat yang menarik di Kawasan Geger Menjangan adalah sebuah makam tua yakni makan Kyai Imam Puro. Konon merupakan cerita Kyai tersebut merupakan salah satu tokoh yang besar andilnya bagi keberadaan Kabupaten Purworejo. Bahkan karena besarnya andil Kyai Imam Puro, sampai-sampai sejarahnya pernah ditawarkan menjadi tonggak hari jadi Kabupaten Purworejo. Lokasi taman wisata Geger Menjangan terletak di timur laut Kota Purworejo. Masuk dalam wilayah Kelurahan Baledono Kabupaten Purworejo. Jaraknya hanya satu kilometer dari pusat kota. Tidak perlu kendaran angkutan umum untuk mencapainya. Dengan berjalan kaki justru terasa lebih nikmat. Sayangnya, kawasan seluas 20 hektar tersebut hingga kini masih ada kendala. Panduan tentang pola pengembangannya telah ada, berupa rencana tapak kawasan lengkap dengan berbagai programnya. Juga sudah ditetapkan dalam rencana umum tata ruang kota (RUTRK) dan rencana tata ruang wilayah (RTRW). Akan tetapi belum ada investor yang dengan sungguh0sungguh berani menanamkan modalnya untuk membuka usaha di kawasan ini.

Museum Tosan Aji
Museum Tosan Aji yang berada di Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo diresmikan pada tanggal 12 April 1987 oleh Gubernur Propinsi Jawa Tengah H. Ismail. Museum ini merupakan salah satu sarana untuk melestarikan warisan budaya nenek moyang yang terdiri dari keris, pedang, kudi cundrik. Tosan Aji diartikan masyarakat sebagai senjata terbuat dari logam besi yang mempunyai kedudukan terhormat pada pandangan mata masyarakat terutama pada masa lampau. Tema Museum tosan aji "Tosan Aji sebagai bukti kemampuan teknologi bangsa kita"

Bedug Kyai Bagelen di Masjid Jami' Purworejo
Merupakan bedug terbesar didunia. Di postingan sebelumnya sudah ditulis, baca disini.
Data-data teknis Bedug kyai Bagelen :

- Panjang rata-rata = 292 centimeter
- Garis tengah bagian depan = 194 centimeter
- Garis tengah bagian belakang = 180 centimeter
- Keliling bagian depan = 601 centimeter
- Keliling bagian belakang = 564 centimeter

Air terjun Sumongari di Kaligesing
Anda warga kaligesing? Punya data, foto, atau cerita mengenai air terjun Sumongari? Kirim saja kemari, mari promosikan ke dunia. Go purworejo global!

Dari berbagai sumber
Read More...

Tari Dolalak, Kesenian Khas Purworejo

on 16.50

Salah satu kesenian khas Kab. Purworejo adalah DOLALAK. Awal mula kehadirannya tidak diketahui secara pasti namun ada pada zaman penjajahan Belanda. Tari dolalak tercipta karena terinspirasi oleh perilaku serdadu Belanda pada saat beristirahat di camp-camp. Serdadu- serdadu tersebut beristirahat sambil minum-minuman keras, ada juga yang menyanyi dan berdansa ria. Aktifitas sehari-hari para serdadu di kamp ditiru oleh para pengikutnya yang kebanyakan pribumi, oleh sebab itu terciptalah tari dolalak yang bentuknya sederhana dan berulang-ulang. Tari dolalak ditarikan oleh para remaja putri yang berpakaian mirip serdadu Belanda, dan puncaknya digambarkan saat penari mendem atau kerasukan setan. Pengiring yang digunakan berupa: kendang, rebana dan bedug, sedangkan syair-syairnya tentang keagamaan, pendidikan dan juga berbagai kritik dan sindiran. Tari ini dapat ditarikan bersama penonton sehingga bisa disebut sebagai tari pergaulan. Tari dolalak mempunyai berbagai ragam sesuai dengan daerah asalnya misalnya; gaya Kaligesingan, Mlaranan, Sejiwanan, dan Banyuuripan.

Tari dolalak berasal dari kata “do” dan “la-la” yang dimaksud not balok dari do,re,mi,fa,sol,la,si,do, yang diambil dari pendengaran penduduk pribumi yang berubah menjadi lidah jawa dolalak, sekitar tahun 1940. Tari ini oleh rakyat Indonesia diciptakan sebagai misi keagamaan dan politik untuk memerangi Belanda. Tari ini dipentaskan pada saat-saat tertentu, diantaranya; mantu,sunatan dan syukuran. Biasanya warga mengundang group tertentu yang disebut nanggap dalam bahasa jawa, tari ini ditarikan menjelang hajatan yaitu pada malam hari semalam suntuk.

Dalam perkembangan selanjutnya kabupaten Purworejo memperhatikan perkembangannya kemudian mengangkat kesenian ini lewat penataran dan seminar tentang tari dolalak. Bahkan dolalak dijadikan muatan lokal dalam pendidikan dasar. Perhatian pemerintah juga tampak dengan memberikan alat dan kostum. Sehingga kini dolalak sudah terkenal sampai di TMII yang pernah pentas di anjungan Jawa Tengah. Seiring berjalannya waktu kemudian dolalak menjadi aset mata pencaharian tambahan bagi penari dan pengiring group tersebut. Sebab pada musim pernikahan banyak menampilkan tari dolalak untuk meramaikannya.

Sebagai seni pertunjukan, dolalak mengandung 4 unsur seni yaitu; seni gerak (tari), seni rupa (busana dan aksesoris), seni suara (musik) dan seni sastra (syair lagu) yaitu:

  1. Gerak : gerak tari dolalak merupakan gerak keprajuritan didominasi oleh gerak yang rampak dan dinamis nyaris seperti gerakan bela diri pencak silat yang diperhalus. Gerakan “kirig” (gerakan bahu yang cepat pada saat-saat tertentu) merupakan ciri khas dolalak yang tidak didapati pada tarian lain. Penelitian Prihartini membagi tari dolalak menjadi tiga bagian yaitu: tari kelompok, tari pasangan, dan tari tunggal. Tari tunggal biasanya diikuti dengan “trance” atau kesurupan sehingga penari bisa menari hingga berjam-jam. Pada perkembangannya tari dolalak dimodivikasi sehingga bisa ditarikan hanya 15 menit. Dalam tari terdapat berbagai macam istilah diantaranya gerak kaki (adeg, tanjak, hoyog, sered, mancat, gejug, jinjit, ngentrik, ngetol, engklel, sing, pencik, kesutan, sampok, jengkeng dan sepak). Gerak tangan (ngruji, taweng, ngregem, malangkerik, ukel, ukel wolak-walik, tepis, jentus, keplok, enthang, siak, kesutan grodha, miwir sampur, ngithir sampur, bapangan wolak-walik, atur-atur, cathok, mbandhul, cakilan dan tangkisan). Gerak tubuh/ badan (ogek,entrag dan geblag). Gerak leher(tolehan, lilingan dan coklekan) gerak bahu (kirig dan kedher).
  2. Busana : kostum tradisional dolalak menggunakan baju lengan panjang hitam dan celana pendek hitam dengan pelisir “untu walang” pada tepinya. Serta aksesorius kuning keemasan pada bagian dada dan punggung ditambah topi pet hitam dengan hiasan dan kaos kaki panjang, namun saat ini dimodivikasi pada celana pendek yang dahulu diatas lutut menjadi di bawah lutut. Bahkan ada juga yang dimodivikasi dengan gaya muslim dengan berkerudung namun aksesorisnya tetap sama. Memakai sampur pendek yang diikat di sebelah kanan saja.
  3. Musik : semula hanya acapela, namun dalam perkembangannya diiringi dengan lagu dan tembang seerta iringan solawat jawa dan dilengkapi juga dengan bedug, kendang, terbang, kecer dan organ. Musiknya beragam dari vocal “bawa” sebagai lagu pembuka hingga lagu parikan atau pantun yang menggunakan bahasa melayu lama dan sebagian bahasa jawa bahkan bahasa arab. Bahkan sekarang masuk juga lagu jenis pop, dangdut dan campursari.
  4. Syair lagu: bertema tentang agama sindiran sosial, kegembiraan dan nasehat kehidupan ada juga yang bernuansa romantis yang dinyatakan dengan pantun atau parikan.
Dansa (tari gaul gaya barat ) dengan iringan lagu membangkitkan inspirasi beberapa warga pribumi untuk menirunya menjadi tari dolalak. Menurut penelitian Prihatini (2000) nama mereka adalah Rejotaruno, Duliyat dan Ronodimejo untuk menirunya. Dari hasil survey jurisan sejarah FKIP IKIP Semarang (1971) mencatat bahwa akar kesenian dolalak tumbuh pada masa perang Aceh (1873-1904). Untuk menghibur diri pasukan Belanda yang ditugaskan di Aceh membuat tari keprajuritan , dengan barisan dan cakepan atau nyanyian yang berbentuk “pernesan” atau sindiran serta dengan pakaian ala Belanda dan Perancis. Ketika Purworejo menjadi basis militer Belanda kesenian itu juga makin berkembang luas. Menurut salah satu sumber di internet (javapromo.com, 2007) yang dikemukakan oleh Tijab pimpinan group dolalak dusun Giri Tengah Borobudur mengatakan bahwa dolalak berasal dari kata “Duh allah” dan lahirnya seni dolalak karena adanya kisah pasukan Srikandi yang membantu Nyai Ageng Serang pada saat perang Diponegoro. Pasukan wanita tersebut berada di bawah pimpinan Ambarsari dan Roro Ayu Tunggalsari.

Pada awal kehadirannya sampai tahun 1970 dolalak merupakan kesenian rakyat yang berfungsi sebagai penghibur pada kegiatan hajatan masyarakat desa. Pada dekade 1970 ketika pemerintah mulai menggalakkan kesenian daerah sebagai aset wisata, dan mulai ada campur tangan dari pemerintah dan pembinaan. Atas prakarsa Bupati Soepanto (1975) yang menganjurkan kaum wanita bisa menjadi penari dolalak mendapat respon yang positif. Sehingga mulailah muncul group- group dolalak di tingkat kecamatan dan mencapai puncaknya pada dekade 1980 –an. Bahkan pada tahun 80 an terjadi perubahan yang menonjol dimana kemudian para penari yang tadinya lelaki diganti menjadi wanita yang diawali dengan group dolalak dari dusun Teneran, desa Kaligono, kecamatan Kaligesing. Dan kemudian pada saat ini berkembang pesat group dolalak yang penarinya wanita.

Isi lain yang perlu diungkap adalah “mantra” yang digunakan oleh sesepuh group dolalak ketika mengendalikan kekuatan ghaib yang merasuki penari dolalak. Sebelum group dolalak menari telah disediakan sesaji diantaranya: bunga setaman minimum 3 macam, minuman ( teh, kopi, dan air putih), kelapa muda, pisang dan jajan pasar, alat kecantikan (bedak, lipstik, kaca pengilon, sisir dan minyak wangi), kinang, sirih dan kapur sirih. Semuanya itu disajikan untuk penari yang “mendhem” atau kerasukan roh halus. Dalam kondisi menari mereka bisa totalitas dan bahkan kadang dapat melakukan hal- hal yang aneh dan diluar kebiasaan.

Tari Dolalak Part I


Tari Dolalak Part II


Diambil dari berbagai sumber.............
Read More...

Asal Usul Nama INDONESIA

on 11.16

Catatan masa lalu menyebut kepulauan di antara Indocina dan Australia dengan aneka nama. Kronik-kronik bangsa Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai ("Kepulauan Laut Selatan"). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa ("Pulau Emas", diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut wilayah kepulauan itu sebagai Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan, benzoe, berasal dari nama bahasa Arab, luban jawi ("kemenyan Jawa"), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "orang Jawa" oleh orang Arab, termasuk untuk orang Indonesia dari luar Jawa sekali pun. Dalam bahasa Arab juga dikenal nama-nama Samathrah (Sumatera), Sholibis (Pulau Sulawesi), dan Sundah (Sunda) yang disebut kulluh Jawi ("semuanya Jawa").

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia. Jazirah Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang", sementara kepulauan ini memperoleh nama Kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau Hindia Timur (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang kelak juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais). Unit politik yang berada di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia-Belanda). Pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur) untuk menyebut wilayah taklukannya di kepulauan ini.

Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah memakai nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu Insulinde, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (dalam bahasa Latin insula berarti pulau). Nama Insulinde ini selanjutnya kurang populer, walau pernah menjadi nama surat kabar dan organisasi pergerakan di awal abad ke-20.

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis :

"... the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians".

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah Indian Archipelago terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan :

"Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago".

Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.

Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel ("Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu") sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara di kepulauan itu pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indië tahun 1918. Pada kenyataannya, Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.
Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.

Nama Indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan Indonesiër (orang Indonesia).

Politik

Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sebagai akibatnya, pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya :
"Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia-Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesiër) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."

Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa, dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia-Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama Indonesië diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Permohonan ini ditolak.

Dengan pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia-Belanda". Pada tanggal 17 Agustus 1945, menyusul deklarasi Proklamasi Kemerdekaan, lahirlah [Republik Indonesia].

Nama Indonesia dalam berbagai bahasa :

•    bahasa Afrikaans: Indonesië
•    bahasa Jerman Aleman: Indonesien
•    bahasa Aragon: Indonesia
•    bahasa Arab: إندونيسيا
•    bahasa Assam: ইন্দোনেশিয়া
•    bahasa Asturia: Indonesia
•    bahasa Azerbaijan: İndoneziya
•    bahasa Bashkir: Индонезия
•    bahasa Belarusia: Інданезія
•    bahasa Bulgaria: Индонезия
•    bahasa Bengali: ইন্দোনেশিয়া
•    bahasa Tibet: ཨིན་རྡུ་ནི་ཤིས་ཡ
•    bahasa Breton: Indonezia
•    bahasa Bosnia: Indonezija
•    bahasa Katalan: Indonèsia
•    bahasa Tatar Krimea: İndoneziya
•    bahasa Ceko: Indonésie
•    bahasa Kashubia: Jindonezjô
•    bahasa Chuvash: Индонези
•    bahasa Welsh: Indonesia
•    bahasa Denmark: Indonesien
•    bahasa Jerman: Indonesien
•    bahasa Dhivehi: އިންޑޮނޭޝިޔާ
•    bahasa Yunani: Ινδονησία
•    bahasa Inggris: Indonesia
•    bahasa Esperanto: Indonezio
•    bahasa Spanyol: Indonesia
•    bahasa Estonia: Indoneesia
•    bahasa Basque: Indonesia
•    bahasa Farsi: اندونزی
•    bahasa Finlandia: Indonesia
•    bahasa Perancis: Indonésie
•    bahasa Franco-Provençal: Endonèsie
•    bahasa Frisia: Yndoneezje
•    bahasa Irlandia: An Indinéis
•    bahasa Gaelik Skotlandia: An Innd-Innse
•    bahasa Galisia: Indonesia
•    bahasa Manx: Yn Indoneesh
•    bahasa Hakka: Yin-thu-nì-sî-â
•    bahasa Hawaii: ‘Inidonesia
•    bahasa Ibrani: אינדונזיה
•    bahasa Hindi: इंडोनेशिया
•    bahasa Hindustani Fiji: Indonesia
•    bahasa Kroasia: Indonezija
•    bahasa Sorbia Hulu: Indoneska
•    bahasa Kreol Haiti: Endonezi
•    bahasa Hungaria: Indonézia
•    bahasa Armenia: Ինդոնեզիա
•    bahasa Islandia: Indónesía
•    bahasa Italia: Indonesia
•    bahasa Jepang: インドネシア
•    bahasa Jawa: Indonésia
•    bahasa Georgia: ინდონეზია
•    bahasa Kazak: Үндінезия
•    bahasa Khmer: ឥណ្ឌូនេស៊ី
•    bahasa Kannada: ಇಂಡೋನೇಷ್ಯಾ
•    bahasa Korea: 인도네시아
•    bahasa Kurdi: Îndonêziya
•    bahasa Komi: Индонезия
•    bahasa Kernewek: Indonesi
•    bahasa Kirgiz: Индонезия
•    bahasa Latin: Indonesia
•    bahasa Luksemburg: Indonesien
•    bahasa Limburgish: Indonesië
•    bahasa Lombard Barat: Indunesia
•    bahasa Lituania: Indonezija
•    bahasa Latvia: Indonēzija
•    bahasa Banyumasan: Indonesia
•    bahasa Malagasi: Indonezia
•    bahasa Māori: Initonīhia
•    bahasa Makedonia: Индонезија
•    bahasa Malayalam: ഇന്തോനേഷ്യ
•    bahasa Mongolia: Индонез
•    bahasa Marathi: इंडोनेशिया
•    bahasa Mazandaran: اندونزی
•    bahasa Nauru: Indonesia
•    bahasa Nahuatl: Indonesia
•    bahasa Neapolitan: Indonesia
•    bahasa Jerman Bawah: Indonesien
•    bahasa Saxon Bawah Belanda: Indonezie
•    bahasa Belanda: Indonesië
•    Nynorsk: Indonesia
•    bahasa Norwegia: Indonesia
•    bahasa Occitan: Indonesia
•    bahasa Ossetia: Индонези
•    bahasa Polandia: Indonezja
•    bahasa Pashtun: اندونېزيا
•    bahasa Portugis: Indonésia
•    bahasa Quechua: Indunisya
•    bahasa Rumania: Indonezia
•    bahasa Rusia: Индонезия
•    bahasa Sanskerta: इन्दोनेशिया
•    bahasa Sakha: Индонезия
•    bahasa Sisilia: Indunesia
•    bahasa Sami Utara: Indonesia
•    bahasa Serbo-Kroasia: Indonezija
•    bahasa Slowakia: Indonézia
•    bahasa Slovenia: Indonezija
•    bahasa Albania: Indonezia
•    bahasa Serbia: Индонезија
•    bahasa Sunda: Républik Indonésia
•    bahasa Swedia: Indonesien
•    bahasa Swahili: Indonesia
•    bahasa Silesia: Indůnezyjo
•    bahasa Tamil: இந்தோனேசியா
•    bahasa Telugu: ఇండోనేషియా
•    bahasa Tetum: Indonézia
•    bahasa Tajik: Индонезия
•    bahasa Thai: ประเทศอินโดนีเซีย
•    bahasa Turkmenistan: Indoneziýa
•    bahasa Tagalog: Indonesya
•    bahasa Turki: Endonezya
•    bahasa Udmurt: Индонезия
•    bahasa Uighur: ھىندونېزىيە
•    bahasa Ukraina: Індонезія
•    bahasa Urdu: انڈونیشیا
•    bahasa Venesia: Indonexia
•    bahasa Vietnam: Indonesia
•    bahasa Wolof: Endoneesi
•    bahasa Yiddish: אינדאנעזיע
•    bahasa Yoruba: Indonesia
•    bahasa Tionghoa: 印度尼西亚

Sumber : http://lsmap.blogspot.com
Read More...

Kalender Jawa

on 14.34

Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran. Pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung yang berusaha keras menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dalam kerangka negara Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender kamariah atau lunar, namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan. Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan. Sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

Dekrit Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah kerajaan Mataram II: seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, Batavia dan Banyuwangi (=Balambangan). Ketiga daerah terakhir ini tidak termasuk wilayah kekuasaan Sultan Agung. Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh budaya Jawa, juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Sultan Agung ini.

Daftar bulan Jawa Islam

Di bawah ini disajikan nama-nama bulan Jawa Islam. Sebagian nama bulan diambil dari Kalender Hijriyah, dengan nama-nama Arab, namun beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sansekerta seperti Pasa, Sela dan kemungkinan juga Sura. Sedangkan nama Apit dan Besar berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Nama-nama ini adalah nama bulan kamariah atau candra (lunar).

No       Penanggalan Jawa

1          Sura (30 hari)
2          Sapar (29 hari)
3          Mulud (30 hari)
4          Bakda Mulud (29 hari)
5          Jumadilawal (30 hari)
6          Jumadilakir (29 hari)
7          Rejeb (30 hari)
8          Ruwah (Arwah, Saban) (29 hari)
9          Pasa (Puwasa, Siyam, Ramelan) (30 hari)
10        Sawal (29 hari)
11        Sela (Dulkangidah, Apit) *  (30 hari)
12        Besar (Dulkijah) (29 hari)

            Total    354 hari

* Nama alternatif bulan Dulkangidah adalah Sela atau Apit. Nama-nama ini merupakan peninggalan nama-nama Jawa Kuna untuk nama musim ke-11 yang disebut sebagai Hapit Lemah. Sela berarti batu yang berhubungan dengan lemah yang artinya adalah “tanah”.

Daftar bulan Jawa matahari

Pada tahun 1855 Masehi, karena penanggalan kamariah dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam, maka bulan-bulan musim atau bulan-bulan surya yang disebut sebagai pranata mangsa, dikodifikasikan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV atau penggunaannya ditetapkan secara resmi. Sebenarnya pranata mangsa ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan pada zaman pra-Islam. Lalu oleh beliau tanggalnya disesuaikan dengan penanggalan tarikh kalender Gregorian yang juga merupakan kalender surya. Tetapi lama setiap mangsa berbeda-beda.

1.         Kasa - (23 Juni-2 Agustus)
2.         Karo - (3 Agustus-25 Agustus)
3.         Katiga (Katelu) - (26 Agustus-18 September)
4.         Kapat - (19 September-13 Oktober)
5.         Kalima - (14 Oktober-9 November)
6.         Kanem - (10 November-22 Desember)
7.         Kapitu - (23 Desember-3 Februari)
8.         Kawolu - (4 Februari-1 Maret)
9.         Kasanga - (2 Maret-26 Maret)
10.       Kasepuluh - (27 Maret-19 April)
11.       Dhesta* - (20 April-12 Mei)
12.       Sadha* - (13 Mei-22 Juni)

* Dalam bahasa Jawa Kuna mangsa kesebelas disebut hapit lemah sedangkan mangsa keduabelas disebut sebagai hapit kayu. Lalu nama dhesta diambil dari nama bulan ke-11 penanggalan Hindu dari bahasa Sansekerta jyes.t.ha dan nama sadha diambil dari kata âs.âd.ha yang merupakan bulan keduabelas.

Siklus windu

Oleh orang Jawa tahun-tahun digabung menjadi semacam abad yang terdiri dari delapan satuan lebih kecil. Setiap satuan ini terdiri atas 8 tahun Jawa dan disebut windu. Di bawah disajikan nama-nama windu:

1.         Alip
2.         Ehe
3.         Jimawal
4.         Je
5.         Dal
6.         Be
7.         Wawu
8.         Jimakir

Pembagian pekan

Orang Jawa pada masa pra Islam mengenal pekan yang lamanya tidak hanya tujuh hari saja, namun dari 2 sampai 10 hari. Pekan-pekan ini disebut dengan nama-nama dwiwara, triwara, caturwara, pañcawara (pancawara), sadwara, saptawara, astawara dan sangawara. Zaman sekarang hanya pekan yang terdiri atas lima hari dan tujuh hari saja yang dipakai, namun di pulau Bali dan di Tengger, pekan-pekan yang lain ini masih dipakai.

Pekan yang terdiri atas lima hari ini disebut sebagai pasar oleh orang Jawa dan terdiri dari hari-hari: Legi, Paing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Kemudian sebuah pekan yang terdiri atas tujuh hari ini, yaitu yang juga dikenal di budaya-budaya lainnya, memiliki sebuah siklus yang terdiri atas 30 pekan. Setiap pekan disebut satu wuku dan setelah 30 wuku maka muncul siklus baru lagi. Siklus ini yang secara total berjumlah 210 hari adalah semua kemungkinannya hari dari pekan yang terdiri atas 7, 6 dan 5 hari berpapasan.

Sumber : Wikipedia
Read More...

Hubungan Bagelen Dalam Sejarah Indramayu

on 21.55

Menurut babad dermayu dan hikayat yang rutun menurun dari rakyat bahwa penghuni pertama daerah indramayu adalah Raden Aria Wiralodra yang berasal dari daerah Bagelen Jawa Tengah Putra Tumneggung yang bernama Gagak Singalodra. Sejak kecil dia ingin membangun suatu Negara untuk diwariskan kelak pada cucu-cucunya.

Suatu masa raden Wiralodra menjalankan tapa brata dan semedi di perbukitan melaya di kaki gunung Sumbing, setalah melampaui masa tiga tahun ia mendapat wangsit “Hai Wiralodara, apa bila engkau ingin berbahagisa serta keturunanmu kela di kemudian hari, pergilah engkau kearah matahari tenggleam dan carilah sungai Cimanuk mana kala engkau telah tiba disana berhentilan dan tebanglan hutan belukar secukupnya untuk sebuah pedukuhan dan menetaplan di sana”

Demi melaksanakan wangsitnya Raden Wiralodra didampingi abdinya Ki Tinggil berangkat ke arah barat untuk mencari sungai Cimanuk suatu  senja sampailah mereka di sebuah sungai yang amat besar, Raden Wiralodra mengira sungai itu adalah Cimanuk maka bermalamlah disitu dan ketika pagi-pagj bangun mefeka melihat ada orang tua yang menequr mereka dan menanyakan tuiuan mereka. Raden Wiralodra menjelaskan apa maksud dan tujuannya perjalanan mereka, namun orang tua itu berkata “Hai cucuku, tuan telah tersesat, sungai ini  bukan Cimanuk yang tuan cari, adapun cimanuk telah terlewat yaitu terletak di sebelah timur, berjalanlah ke arah timur laut''. Setelah berkata, demikian orang tersebut lenyap dan orang tua itu menurut riwayat adalah Ki Buyut Sidum, Kidang penanjung dari Pajajaran.

Ki Sidum adalah seorang panakawan tumenggung Sri Baduga Yang hidup antara tahun 1474 – 1513 Kemudian Wiralodra dan Ki Tinggil  melanjutkan perjalanan menuju timur laut dan seterah berharj-hari berjalan mereka melihat sungai besar, Wiralodra berharap sungai tersebut adalah Cimanuk dan tiba-tiba dia melihat kebun yang indah namun pemilik kebun tersebut sangat congkak ampai Wiralodra tak kuasa mengendalikan emosinya ketika ia  hendak membanting pemilik kebun itu, orang itu lenyap hanya ada suara “Hai cucuku Wiralodra ketahuilah bahwa hamba adalah Ki Sidum dan sungai ini adalah sungai Cipunegara, sekarang teruskanlah perjalanan kearah timur, manakala menjumpai seekor kijang bemata berlian ikutilah dimana kijang itu lenyap maka itulah sungai cimanuk yang tuan cari, kelak tuan membabad hutan Cimanuk bertapalah jangan tidur karena hal itu penting untuk kebahagiaan anak cucu tuan di kemudian hari Mereka melanjutkan perjalan kembali bertemulah mereka dengan seorang perempuan bernama Dewi Larawana yang memaksa untuk di persunting Wiralodra namun Wiralodra menolaknya hingga membuat gadis itu marah dan menyerangnya. Wiralodra mengeluarkan cakranya kearah Larawana gadis itupun lenyap barsamaan dengan munculnya seekor kijang. Wiralodra segera mengejarnya kijang tersebut yang lari  ke arah  timur, ketika kijang  itu lenyap tampaklah sebuah sungai besar. Karena kelelahan Wiralodra tertidur dan bermimpi bertemu dengan Ki Sidum yang berkata, “Hai cucuku inilah hutan Cimanuk yang di cari, di sinilah kelak tuan bermukim. Setelah ada kepastian lewat mimpinya itu Wiralodra dan Ki Tinggil Segera membuat gubug dan membuka lading dan menetap di sebelah barat ujung sungai Cimanuk.

Akhirnya tersiarlah ke segenap pelosok bahwa di hutan Cimanuk telah berdiri sebuah pedukuhan. Pedukuhan Cimanuk tersebut makin hari makin banyak penghuninya pendatang terus berdatangan, diantaranya seorang wanita cantik yang membawa bibit- bibitan. Dia adalah Nyi Endang Dharma seorang wanita  paripurna yang kelak bersama-sama raden Wiralodra mengembangkan Indramayu. Karena kemahirannya dalam ilmu kanuragan maka telah mengundang pangeran Guru dari Palembang, dia datang ke lembah cimanuk beserta 24 muridnya untuk menantang Nyi Endang Darma semua tewas, yang selanjutnya dikuburkan yang sekarang terkenal dengan Makam Selawe

Melihat kejadian itu Ki Tinggil tergerak untuk melaporkannya kepada Raden Wiralodra yang saat itu sedang pulang ke Bagelen Karena merasa ketentraman penduduknya terusik, Raden Wiralodra pun  kembali ke Cimanuk. Setelah mendengar penjelasan dari Nyi Endang Darma, Wiralodra mengakui kebenaranya, namun, karena ingin menyaksikan langsung kehebatan Nyi Endang Darma, Raden Wiralodra turun untuk adu kesaktian dengan Nyi Endang Darma akhirnya Nyi Endang Darma kewalahan dengan serangan- serangan Wiralodra maka Nyi Endang Darma pun meloncat terjun kedalam  sungai Cimanuk dan mengakui kekalahannya Wiralodra mengajak pulang Nyi Endang Darma untuk bersama-sama melanjutkan pebangunan pedukuhan namun Nyi Endang Darma tidak mau dan hanya berpesan “Jika kelak tuan hendak memberi nama pedukuhan ini maka namakanlah dengan nama hamba, kiranya permohonan hamba ini tidak berlebihan karna hamba ikut andil yang tidak sedikit dalam usaha membangun daerah ini. Pada suatu saat yang telah ditentukan diresmikanlah pedukuhan Cimanuk tersebut, dalam sambutannya Wiralodra berkata .Untuk. mengenang jasa orang yang telah ikut membangun pedukuhan ini maka pedukuhan ini kami namakan DARMA AYU''

Peresmian pedukuhan Darma Ayu memang tidak jelas tanggal dan tahunnya namun berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada dan hasil penulisan - penulisan tim Peneliti menyimpulkan peristiwa tersebut terjadi pada hari jum'at kliwon, tanggal 1Sura 1449 atau 1 Muharam 934 yang bertepatan dengan 07 Oktober 1527 M

Sumber : http://kabindramayu.net
Read More...

13 Fenomena di Langit Sepanjang 2010

on 11.18

Usia tata surya yang semakin tua dan antar planet yang semakin akrab bersinggungan.......... adalah fenomena.

Beberapa fenomena astronomi menarik akan terjadi di tahun 2010 ini. Beberapa diantaranya bahkan bisa dikategorikan 'luar biasa'.

Berikut ini peristiwa langit yang akan terjadi di 2010, seperti dimuat halaman Space.com.

15 Januari, gerhana matahari cincin terlama

Gerhana matahari cincin akan terjadi pada Jumat 15 Januari 2010, khususnya di Afrika, India, dan China.

Gerhana matahari cincin terjadi saat Bulan berada jauh dari bumi sehingga piringannya terlihat kecil dan tidak dapat menutupi seluruh piringan matahari.

Piringan matahari yang tertutup oleh piringan Bulan hanya bagian tengahnya saja, sekitar 92 persen, sehingga bagian pinggir matahari tidak tertutup. Oleh karena itu piringan matahari akan terlihat dari muka bumi seperti lingkaran cincin yang bercahaya.

Gerhana yang akan terjadi berdurasi 11 menit 8 detik. Menurut ilmuwan NASA, ini durasi yang sangat lama, terlama sepanjang milenium. Durasi ini tak akan terulang lagi hingga 3043!

29 Januari, Planet Mars mendekat ke bumi

Hari itu, Planet Mars hanya sejauh 61,7 juta mil dari Bumi. Ini waktu terbaik untuk para pengamat langit untuk mengamati Mars dengan menggunakan teleskop. Meski mendekat, Mars tak bisa diamati maksimal dengan mata telanjang. Mars tidak akan terlihat sebesar Bulan, untuk mata kita Mars hanya seperti bintang kecil di langit.

16 Februari, Jupiter dan Venus akan terlihat bersama

Seperti dua kapal yang melintasi senja, Venus dan Jupiter akan terlihat bersamaan dengan jarak antara 5 derajat. Saat itu Jupiter mendekati matahari, sementara Venus bergerak menjauhi sang surya.

28 Maret sampai 12 April, Venus dan Merkurius seperti berpasangan

Dua planet ini akan merupakan pasangan menarik di langit barat dan barat laut, saat senja. Jarak dua planet ini hanya sekitar lima derajat. Venus muncul ke kiri dan sedikit di atas bayangan Mercurius. Pada tanggal 3 April, mereka akan terlihat sangat dekat, hanya sedikit di atas 3 derajat.

6 Juni, dua fenomena menarik di Langit

Mars akan berjarak kurang dari satu derajat utara dari bintang biru Regulus. Konjungsi ini akan mudah terlihat di langit malam.

Malam yang sama, Jupiter Uranus akan terlihat bersamaan dalam tiga seri konjungsi. Hanya ada enam konjungsi seperti ini antara tahun 1801 dan 2200. Yang terakhir pada tahun 1983 dan berikutnya akan datang antara tahun 2037-2038.

26 Juni, gerhana bulan parsial

Gerhana ini akan terjadi di Kepulauan Hawaii, barat Alaska, Australia, Selandia Baru, wilayah bagian timur Malaysia dan Asia. Di lokasi-lokasi ini, akan terlihat bagian atas bulan gelap oleh bayangan Bumi.

11 Juli, Gerhana matahari total

Gerhana matahari total akan terjadi di 15 mil dari Tahiti dan Pulau Paskah. Sementara di sebuah titik lokasi di Samudera Pasifik Selatan, matahari tertutup total selama 4 menit dan 45 detik.

Awal Agustus, Trio Planet

Mars melewati kurang dari dua derajat di selatan Saturnus pada 1 Agustus. Kemudian, bayangan Venus anya lebih dari 3 derajat ke selatan sembilan hari kemudian; pada 8 Agustus.

Tiga planet itu akan membentuk apa yang Jean Meeus mendefinisikan sebagai "trio," ketika tiga planet yang sesuai dalam lingkaran dengan diameter minimum lebih kecil dari 5 derajat.

12 Agustus, Hujan Meteor Perseid

Hujan meteor tahunan ini akan maksimal terjadi di langit gelap, tanpa diintervensi cahaya bulan. Sekitar 90 meteor akan jatuh tiap jamnya.

21 September, Jupiter, Besar dan Tinggi

Jupiter akan berada di langit tengah malam, yaitu, pada oposisi (-2,9 magnitudo). Dalam orbit ini, Jupiter lebih dekat daripada jarak rata-rata.

Akhir Oktober, Bumi dilintasi Komet

Komet Hartley 2 akan melintas bumi, tepatnya 11,2 juta mil dari Bumi pada pada 20 Oktober 2010, hanya seminggu sebelum komet ini melewati matahari dalam jarak dekat.

Komet ini bisa dilihat dengan mata telanjang di daerah pedesaan, bukan di tengah hingar-bingar kota.

14 Desember, Hujan meteor Gemini

Hujan meteor gemini kembali terjadi. Sekitar 120 meteor per jam akan turun dan menciptakan fenomena yang indah.

20-21 Desember, Gerhana Bulan Total

Amerika Utara mendapatkan 'kursi terbaik' untuk melihat fenomena gerhana bulan total ini. Untuk Timur AS dan Kanada, fenomena ini terjadi dini hari.

Untuk barat AS dan Kanada, fenomena ini terjadi pada tengah malam 20-21 Desember. Gerhana bulan ini akan terjadi selama 1 jam dan 14 menit.

Sumber : VIVAnews
Read More...

Indonesia, Truly Antlantis (Atlantis the Lost Continents Finally Found)

on 11.27




Ingat iklan pariwisata Malaysia yang cantik itu ? Malaysia , Truly Asia …

Banyak orang kita yang sebal melihat iklan yang bagus itu, karena banyak hal-hal yang digambarkan dalam iklan itu sebenarnya lebih banyak dijumpai di pelbagai wilayah Indonesia dari pada di Malaysia .

Yah, kita selalu ‘keduluan’ oleh mereka.

Hal lain yang menyebalkan menyangkut negeri tercinta ini adalah manakala ada yang mengatakan bahwa banyak orang di Amerika atau di luar negeri yang tidak mengenal Indonesia . Katanya mereka tahu Bali, tapi Indonesia itu dimana sih…., konon tanya mereka…..

Tapi perkembangan terbaru rada beda ; mempromosikan Indonesia akhir-akhir ini mestinya ibarat mendayung perahu ke hilir, yang didorong arus sungai dari belakang. Banyak kemudahan yang didapat secara gratis.

Bukan hanya akibat kedatangan Hillary Rodam Clinton, tapi terutama oleh ulah Prof. Arysio N. dos Santos yang menerbitkan buku yang menggemparkan : “Atlantis the Lost Continents Finally Found”.

Dimana ditemukannya ?

Secara tegas dinyatakannya bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia (!).

Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis yang memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi sebagai hukuman dari para Dewa. Kisah Atlantis ini dibahas dari masa ke masa, dan upaya penelusuran terus pula dilakukan guna menemukan sisa-sisa peradaban tinggi yang telah dicapai oleh bangsa Atlantis itu.

Pencarian dilakukan di samudera Atlantik, Laut Tengah, Caribea, sampai ke kutub Utara. Pencarian ini sama sekali tidak ada hasilnya, sehingga sebagian orang beranggapan bahwa yang diceritakan Plato itu hanyalah negeri dongeng semata.

santosProfesor Santos yang ahli Fisika Nuklir ini menyatakan bahwa Atlantis tidak pernah ditemukan karena dicari di tempat yang salah.

Lokasi yang benar secara menyakinkan adalah Indonesia , katanya. Dia mengatakan bahwa dia sudah meneliti kemungkinan lokasi Atlantis selama 29 tahun terakhir ini.

Ilmu yang digunakan Santos dalam menelusur lokasi Atlantis ini adalah ilmu Geologi, Astronomi, Paleontologi, Archeologi, Linguistik, Ethnologi, dan Comparative Mythology.

Ini adalah iklan gratis untuk mengenalkan Indonesia secara efektif ke dunia luar, yang tidak memerlukan dana 1 sen pun dari Pemerintah RI .

Sebagaimana dapat diikuti dari websitenya, Plato menulis tentang Atlantis pada masa dimana Yunani masih menjadi pusat kebudayaan Dunia Barat (Western World).


Sampai saat ini belum dapat dideteksi apakah sang ahli falsafah ini hanya menceritakan sebuah mitos, moral fable, science fiction, ataukah sebenarnya dia menceritakan sebuah kisah sejarah. Ataukah pula dia menjelaskan sebuah fakta secara jujur bahwa Atlantis adalah sebuah realitas absolut ?

Plato bercerita bahwa Atlantis adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, dan ‘mother of all civilazation’ dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga.

Warga Atlantis yang semula merupakan orang-orang terhormat dan kaya, kemudian berubah menjadi ambisius. Para dewa kemudian menghukum mereka dengan mendatangkan banjir, letusan gunung berapi, dan gempa bumi yang sedemikian dahsyatnya sehingga menenggelamkan seluruh benua itu.

Kisah-kisah sejenis atau mirip kisah Atlantis ini yang berakhir dengan bencana banjir dan gempa bumi, ternyata juga ditemui dalam kisah-kisah sakral tradisional di berbagai bagian dunia, yang diceritakan dalam bahasa setempat.

Menurut Santos, ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun BP (Before Present), secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa yang sangat hebat.

Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari species mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia : Neandertal dan Cro-Magnon.

Sebelum terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia .

Sulawesi, Maluku dan Irian masih menyatu dengan benua Australia dan terpisah dengan Sumatera dan lain-lain itu. Kedua kelompok pulau ini dipisahkan oleh sebuah selat yang mengikuti garis ‘Wallace’. Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’.

Gunung utama yang disebutkan oleh Santos , yang memegang peranan penting dalam bencana ini adalah Gunung Krakatau dan ‘sebuah gunung lain’ (kemungkinan Gunung Toba). Gunung lain yang disebut-sebut (dalam kaitannya dengan kisah-kisah mytologi adalah Gunung Semeru, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani.

Bencana alam beruntun ini menurut Santos dimulai dengan ledakan dahsyat gunung Krakatau , yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar yaitu selat Sunda yang jadinya memisahkan pulau Sumatera dan Jawa.

Letusan ini menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran-dataran rendah diantara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, diantara Jawa dan Kalimantan, dan antara Sumatera dan Kalimantan.

Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa ‘fly-ash’ naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (Zaman Es Pleistocene) .

Abu ini kemudian turun dan menutupi lapisan es. Akibat adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut.

Gletser di kutub Utara dan Eropah kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia .

Banjir akibat tsunami dan lelehan es inilah yang menyebabkan air laut naik sekitar 130 meter diatas dataran rendah Indonesia . Dataran rendah di Indonesia tenggelam dibawah muka laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi.

Tekanan air yang besar ini menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi selanjutnya dan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah berakhirnya Zaman Es Pleitocene secara dramatis.

Dalam bukunya Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah negara makmur yang bermandi matahari sepanjang waktu. Padahal zaman pada waktu itu adalah Zaman Es, dimana temperatur bumi secara menyeluruh adalah kira-kira 15 derajat Celcius lebih dingin dari sekarang.

Lokasi yang bermandi sinar matahari pada waktu itu hanyalah Indonesia yang memang terletak di katulistiwa.

Plato juga menyebutkan bahwa luas benua Atlantis yang hilang itu “….lebih besar dari Lybia (Afrika Utara) dan Asia Kecil digabung jadi satu…”. Luas ini persis sama dengan luas kawasan Indonesia ditambah dengan luas Laut China Selatan.

Menurut Profesor Santos, para ahli yang umumnya berasal dari Barat, berkeyakinan teguh bahwa peradaban manusia berasal dari dunia mereka. Tapi realitas menunjukkan bahwa Atlantis berada di bawah perairan Indonesia dan bukan di tempat lain.

maya_titanosiris1Santos telah menduga hal ini lebih dari 20 tahunan yang lalu sewaktu dia mencermati tradisi-tradisi suci dari Junani, Roma, Mesir, Mesopotamia, Phoenicia, Amerindian, Hindu, Budha, dan Judeo-Christian.

Walau dikisahkan dalam bahasa mereka masing-masing, ternyata istilah-istilah yang digunakan banyak yang merujuk ke hal atau kejadian yang sama.

Santos menyimpulkan bahwa penduduk Atlantis terdiri dari beberapa suku/etnis, dimana 2 buah suku terbesar adalah Aryan dan Dravidas.

Semua suku bangsa ini sebelumya berasal dari Afrika 3 juta tahun yang lalu, yang kemudian menyebar ke seluruh Eurasia dan ke Timur sampai Auatralia lebih kurang 1 juta tahun yang lalu.

Di Indonesia mereka menemukan kondisi alam yang ideal untuk berkembang, yang menumbuhkan pengetahuan tentang pertanian serta peradaban secara menyeluruh. Ini terjadi pada zaman Pleistocene.

Pada Zaman Es itu, Atlantis adalah surga tropis dengan padang-padang yang indah, gunung, batu-batu mulia, metal berbagai jenis, parfum, sungai, danau, saluran irigasi, pertanian yang sangat produktif, istana emas dengan dinding-dinding perak, gajah, dan bermacam hewan liar lainnya.

Menurut Santos, hanya Indonesialah yang sekaya ini.

Ketika bencana yang diceritakan diatas terjadi, dimana air laut naik setinggi kira-kira 130 meter, penduduk Atlantis yang selamat terpaksa keluar dan pindah ke India, Asia Tenggara, China, Polynesia, dan Amerika.

Suku Aryan yang bermigrasi ke India mula-mula pindah dan menetap di lembah Indus . . Karena glacier Himalaya juga mencair dan menimbulkan banjir di lembah Indus, mereka bermigrasi lebih lanjut ke Mesir, Mesopotamia, Palestin, Afrika Utara, dan Asia Utara.

Di tempat-tempat baru ini mereka kemudian berupaya mengembangkan kembali budaya Atlantis yang merupakan akar budaya mereka.

Catatan terbaik dari tenggelamnya benua Atlantis ini dicatat di India melalui tradisi-tradisi cuci di daerah seperti Lanka, Kumari Kandan, Tripura, dan lain-lain. Mereka adalah pewaris dari budaya yang tenggelam tersebut.

Suku Dravidas yang berkulit lebih gelap tetap tinggal di Indonesia .

Migrasi besar-besaran ini dapat menjelaskan timbulnya secara tiba-tiba atau seketika teknologi maju seperti pertanian, pengolahan batu mulia, metalurgi, agama, dan diatas semuanya adalah bahasa dan abjad di seluruh dunia selama masa yang disebut Neolithic Revolution.

Bahasa-bahasa dapat ditelusur berasal dari Sansekerta dan Dravida. Karenanya bahasa-bahasa di dunia sangat maju dipandang dari gramatika dan semantik.

Contohnya adalah abjad. Semua abjad menunjukkan adanya “sidik jari” dari India yang pada masa itu merupakan bagian yang integral dari Indonesia .

Dari Indonesialah lahir bibit-bibit peradaban yang kemudian berkembang menjadi budaya lembah Indus, Mesir, Mesopotamia, Hatti, Junani, Minoan, Crete, Roma, Inka, Maya, Aztek, dan lain-lain.

Budaya-budaya ini mengenal mitos yang sangat mirip. Nama Atlantis diberbagai suku bangsa disebut sebagai Tala, Attala, Patala, Talatala, Thule , Tollan, Aztlan, Tluloc, dan lain-lain.

Itulah ringkasan teori Profesor Santos yang ingin membuktikan bahwa benua atlantis yang hilang itu sebenarnya berada di Indonesia .

Bukti-bukti yang menguatkan Indonesia sebagai Atlantis, dibandingkan dengan lokasi alternative lainnya disimpulkan Profesor Santos dalam suatu matrix yang disebutnya sebagai ‘Checklist’

Terlepas dari benar atau tidaknya teori ini, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Profesor Santos ini sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang-orang luar ke Indonesia.

Teori ini juga disusun dengan argumentasi atau hujjah yang cukup jelas.

Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali “tidak meyakinkan” untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya itu, maka ini adalah suatu proses maju atau mundurnya peradaban yang memakan waktu lebih dari sepuluh ribu tahun.

Contoh kecilnya, ya perbandingan yang sangat populer tentang orang Malaysia dan Indonesia ; dimana 30 tahunan yang lalu mereka masih belajar dari kita, dan sekarang mereka relatif berada di depan kita.

Allah SWT juga berfirman bahwa nasib manusia ini memang Dia pergilirkan. Yang mulia suatu saat akan menjadi hina, dan sebaliknya.

Profesor Santos akan terus melakukan penelitian lapangan lebih lanjut guna membuktikan teorinya. Kemajuan teknologi masa kini seperti satelit yang mampu memetakan dasar lautan, kapal selam mini untuk penelitian (sebagaimana yang digunakan untuk menemukan kapal ‘Titanic’), dan beragam peralatan canggih lainnya diharapkannya akan mampu membantu mencari bukti-bukti pendukung yang kini diduga masih tersembunyi di dasar laut di Indonesia.

Apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan bangsa Indonesia ?

Bagaimana pula pakar Indonesia dari berbagai disiplin keilmuan menanggapi teori yang sebenarnya “mengangkat” Indonesia ke posisi sangat terhormat : sebagai asal usul peradaban bangsa-bangsa seluruh dunia ini ?

Coba dong beri pula perhatian yang memadai.

Atau coba kita renungkan penyebab Atlantis dulu dihancurkan : penduduk cerdas terhormat yang berubah menjadi ambisius serta berbagai kelakuan buruk lainnya (mungkin ‘korupsi’ salah satunya). Nah, salah-salah Indonesia sang “mantan Atlantis” ini bakal kena hukuman lagi nanti kalau tidak mau berubah seperti yang ditampakkan bangsa ini secara terang-terangan sekarang ini.

Santos mengatakan berdasarkan penelitiannya bahwa berbagai kisah tentang negara bak ‘surga’ yang kemudian menjadi hilang, bencana banjir besar, letusan gunung berapi, dan gempa dahsyat ditemui pada kisah-kisah berbagai bangsa di seluruh dunia. Kisah ini mirip satu dengan lainnya.

Pulau Sumaterapun ternyata tertulis dalam kisah Atlantis, yang disebut sebagai Taprobane.

Dulu Taprobane ini diartikan sebagai Ceylon, tapi kalau melihat ukuran besarnya tidak syak lagi bahwa Taprobane adalah Sumatera yang dikisahkan kaya dengan emas, batuan mulia, dan beragam binatang termasuk gajah.

Dan perusahaan penerbangan mana yang akan memulai dengan iklan : Indonesia , Truly Atlantis.

Sumber : Indonesia Katanya dengan sedikit tambahan.
Read More...

Asal Muasal Purworejo

on 22.26

Kayu Antan merupakan tempat di tepi sungai Bagawanta, tempat tersebut merupakan tanah “swatantra” atau perdikan. Prasasti Kayu Ara Hiwang ditemukan di bawah pohon sono tepi sungai Bagawanta wilayah Boro Wetan, yang sekarang masuk wilayah Boro Tengah kecamatan Banyuurip. Prasasti tersebut diresmikan oleh Dyah Mala (Sala) yang merupakan Rakai dari Wanua Poh yaitu putra dari sang Ratu Bajra (daksa) yang tinggal di Wanua Pariwutan. Sang Ratu Bajra dalam hirarki kekuasaan Maharaja Dyah Balitung Watukura adalah orang kedua setelah raja. Upacara penetapan sima terjadi pada tahun 823 saka atau 901 Masehi, tanggalnya 5 Oktober. Prasasti Kayu Ara Hiwang dalam seminar hari jadi kabupaten Purworejo tanggal 28 September 1993 dijadikan sebagai sumber primer menentukan hari jadi. Nama Sima diketahui dari Prasasti itu memuat peristiwa penting yakni: upacara pematokan sebagai sebuah sima atau tanah perdikan yang dibebaskan dari kewajiban pembayaran pajak bagi sima yang dipersembahkan untuk parahyangan. Prasasti itu dibuat pada tahun saka 823 pada bulan Asuji hari ke 5, bulan paro peteng, vurukung senin pahing (wuku) mrgasira, bersamaan dengan siva.

Radix Penadi (pengarang buku "Sunan Geseng, Mubaligh Tanah Bagelen) mengungkapkan bahwa pada saat itu Raka dari Vanua Poh bernama Dyah Sala (Mala) putra sang Bajra yang tinggal di Parivutan menandai desa Kayu Ara Hiwang yang masuk wilayah Vatu Tihang menjadi tanah perdikan untuk dipersembahkan bagi “parahyangan” selain itu pangeran dari Parivutan mensucikan semua kejelekan. Dalam prasasti itu juga disebutkan Rakryan dari Watu Tihang Pu Sanggrama Surandhara, penduduk galak yang masuk wilayah Mahmili menerima pakaian ganja haji patra sisi satu set, perak satu kati dan prasada vohring sebanyak sata swana.

Dalam prasasti tersebut juga disebutkan nama- nama pejabat antara lain: Rakryan Pu Rama dari Patimpuh. Pamagat Valdihati Pu Dangpit, penduduk Pasamuan yang masuk wilayah Valdihati. Tuhan dari Mukudur Sang Vangun Sugih Pu Maniksa, penduduk Medang di bawah Vadihati. Sang Maklambi Manusuk, Sang Tulumpuk Pu Naru penduduk Pupur di bawah Vadihati. Pangkat Panusung dari Makudur Sang Daluk Pu Tangak, ayah dari Lacita, kakek dari Muding penduduk Taji. Para pejabat tersebut menerima “pasek” berupa pakaian berwarna satu set emas dalam jumlah tertentu ada yang enam masa ada pula yang menerima dua belas masa. Pengangkat Panusung dari Tuhan, badan kesatuan para nayaka di bawah Vatu Tihang. Raka dari Vaskar tal, Pu Pudraka penduduk dari kasugihan di bawah Dagihan. Mangrupi tuhan dan badan kesatuan nayaka, Raka dari Pakambingan Pu Pandava, penduduk Lamyar di bawah Varu Ranu. Tuhan dari Lapuran, Raka dari Vatu Hyang dan Lampuran Pu Manu, penduduk dari Panggamulan. Di bawah Manungkyli, Parujar dari Sang Alas Galu. Pu Viryya, penduduk dari Paka-Lang-kyang di bawah pagar Vsi. Matanda dari Sang Dasagar, Pu Tuan penduduk dari Sru Ayun dibawah Hino. Tuhan dari Raka Dvaraga si Myat Hayu Parvvta, penduduk dari Summilak dibawah Vka. Tuhan dari Martandakan Samgat Gunung Tanayan Pu Basu penduduk dari Kalungan di bawah Vka juga menerima masing- masing satu set pakaian berwarna sejumlah masa emas.

Menurut Drs. MM Sukarto K. Atmodjo, penetapan menjadi sima tersebut meliputi: gua, katika, gaga dan semua dipersembahkan kepada parahyangan di Parivutan. Dari nama- nama tempat watu tihang, diidentifikasikan sebagai Salatiang di kecamatan Loano karena dekat dengan tempat tersebut banyak ditemukan batu- batu tegak seperti tiang Batu (Sela Tihang), Mantyasih (Meteseh- Magelang), Taji(daerah Prambanan), dan Kalungan (Kalongan - Loano).yang cukup menarik sima Kayu Ara Hiwang dipersembahkan untuk parahyangan yang masuk dalam wilayah Pariwutan tempat sang Ratu Bajra tinggal. Dalam pengertian lain parahyangan tersebut menjadi tanggungjawab Sang Ratu Bajra. Seorag penulis menfasir sang Ratu Bajra adalah Daksa, orang kedua dalam hirarki pemerintahan Sri Maharaja Dyah Balitung Watukura. Selain berkedudukan sebagai Mahapatih i Hino, ternyata disebut juga sebagai sang ratu, yang kedudukannya setingkat raja.

Dengan demikian yang dinamakan “parahyangan” tersebut bisa dipastikan merupakan tempat yang sangat penting sebagai tempat para dewata atau dewa atau nenek moyang bertempat tinggal. Dan dalam kepercayaan jawa maupun tradisi nenek moyang raja- raja Mataram yakni Syailendra. Yang berarti Syaila= batu atau gunung dan Indra = raja. Syailendra artinya Raja gunung atau tuan yang datang dari gunung. Mungkin juga tuan yang turun dari kahyangan, karena gunung menurut kepercayaan merupakan tempat bersemayamnya roh nenek moyang dan para dewata. Dan satu-satunya tempat yang sesuai.

Menurut Thoyib Djumadi bahwa yang disebut “Parahyangan” dalam prasasti Batu Kayu Ara Hiwang adalah Seplawan. dan patut disebut “parahyangan” tidak lain adalah Seplawan yang terletak dipegunungan Menoreh yang letaknya relatif dekat dengan Kayu Ara Hiwang. Dari uraian tersebut terungkap bahwa dari tanah lungguh Maharaja Dyah Balitung Watukura yang meliputi aliran sungai Bagawanta atau sungai Watukura merupakan wilayah Galuh yang merupakan asal muasal nama Bagelen.

Diambil dari berbagai sumber........
Read More...

Bedug Kyai Bagelen di Masjid Agung

on 09.48

 
Bedug Kyai Bagelen


Jika kamu datang ke Kota Purworejo pasti kamu akan langsung tertarik melihat Alun-Alun di pusat kota yang merupakan Alun-Alun terbesar di Jawa. Di sebelah barat alun-alun besar Kabupaten Purworejo, berdiri megah masjid besar dan agung yang merupakan kebanggaan seluruh umat Islam Purworejo hingga kini.

Masjid yang diberi nama Masjid Agung Kabupaten Purworejo ini menempati tanah wakaf seluas kurang lebih 70 x 80 m2 dengan ukuran 21 x 22 m2 ditambah gandok berukuran ± 10 x 21 m2. Menurut sejarah, setelah berakhirnya Perang Diponegoro (1825 – 1830), Pemerintah Hindia Belanda merasa perlu mengangkat pemimpin dari kalangan pribumi untuk memerintah wilayah Tanah Bagelen (Purworejo sekarang). Sebagai Bupati kemudian diangkat Kangjeng Raden Tumenggung Cokronegoro I dan jabatan pepatih (pembantu Bupati) dipercayakan kepada Raden Cokrojoyo. Pada masa pemerintahan Bupati Cokronegoro I ini mulai dibangun beberapa gedung terutama untuk memperlancar kegiatan-kegiatan pemerintahan. Di sebelah utara alun-alun didirikan Gedung Kabupaten beserta Pendhapa Agengnya untuk tempat bersidang. Gedung yang terdiri dari dua buah bangunan ini disebut paseban,  yaitu tempat para abdi Kabupaten, Lurah dan rakyat menungg panggilan menghadap ke Kabupaten.


Bedug Kyai Bagelen

Atas perintah Bupati Cokronegoro I dibangun pula Masjid Agung Kabupaten Purworejo untuk tempat ibadah. Masjid ini berdasarkan tulisan dalam Prasasti yang ditempelkan di atas pintu utamanya, selesai di bangun pada tahun Jawa 1762 atau tahun 1834 Masehi. Ada beberapa alasan mengapa letak bangunan masjid harus berada di kota Purworejo. Salah satu alasannya bahwa Kota Purworejo terletak di daerah yang dikelilingi oleh perbukitan, yaitu bukit Menoreh di sebelah timur, bukit Geger Menjangan di sebelah utara, dan Gunung Pupur di sebelah Barat. Alasan lainnya bahwa Kota Purworejo berada diantara dua aliran sungai,  yaitu Kali Bogowonto dan Kali Jali dengan latar belakang Gunung Sumbing. Dalam ilmu kalang (Kawruh Kalang) yaitu ilmu kejawen yang mempelajari pengetahuan masalah perencanaan dan pembuatan bangunan jawa, letak tanah pada keadaan demikian disebut "Tanah Sungsang Buwana" atau "Kawula Katubing Kala". Orang-orang Tanah Bagelen ketika itu percaya bahwa apabila sebuah bangunan didirikan pada letak Tanah Sungsang Buwana, maka orang-orang yang mendiami atau menggunakannya akan disegani dan dicintai oleh banyak orang atau menjadi kepercayaan para pembesar.

Kantor Bupati

Setelah masjid dibangun lalu muncul ide baru dari Bupati Cokronegoro I untuk melengkapinya dengan sebuah Bedug yang harus dibuat istimewa sehingga menjadi tanda peringatan di kemudian hari. Keberadaan Bedug menurut Bupati Cokronegoro I sangat diperlukan adik sang Bupati yaitu Mas Tumenggung Prawironegoro Wedana Bragolan, disarankan agar bahan Bedug dibuat dari pangkal (bongkot) pohon Jati. Bahan baku dari pohon jati tadi sesungguhnya berasal dari Dukuh Pendowo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Dari cerita lisan yang turun temurun, pohon-pohon jati yang terdapat di Dukuh Pendowo telah berusia ratusan tahun dengan ukuran besar-besar bahkan ada yang bercabang lima. Dalam ilmu kejawen, pohon-pohon jati besar bercabang lima yang disebut Pendowo mengandung sifat perkasa dan berwibawa. Pembuatan Bedug yang dikenal sebagai Bedug Kyai Bagelen (Bedug Pendhawa) ini diperkirakan dilakukan pada tahun jawa 1762 atau tahun 1834 masehi bersamaan dengan selesainya pendirian bangunan Masjid Agung. Cara pembuatan bedug ini dimulai dengan menghaluskan permukaan bongkot kayu jati, kemudian bagian tengahnya dilubangi hingga tembus dari ujung ke ujung (growong) dan dihaluskan kembali.

Masjid Agung Purworejo

Sebagai penutup bedug, mula-mula digunakan bahan dari kulit banteng. Akan tetapi, setelah 102 tahun kemudian (3 mei 1936) kulit bedug bagian belakang mengalami kerusakan sehingga diganti dengan kulit sapi ongale (benggala) dan sapi pemacek yang berasal dari Desa Winong, Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo. Sedangkan di dalam Bedug Kyai Bagelen di pasang sebuah gong besar yang berfungsi untuk menambah getaran dan bunyi (anggreng). Ada persoalan baru ketika bedug selesai dibuat, yaitu persoalan pemindahan dari Dukuh Pendowo (Jenar) ke Kota Purworejo, seperti diketahui, jarak Pendowo - Purworejo cukup jauh yaitu sekitar 9 kilometer dengan kondisi jalan yang sangat sukar dilalui pada waktu itu (sekarang sudah beraspal mulus sebagai jalur lintas selatan Jawa). Untuk mengatasi persoalan ini tentunya dibutuhkan seorang pemimpin yang mempunyai kelebihan, kebijaksanaan dan keberanian di dalam menjalankan tugas. Bupati Cokronegoro I atas usul adiknya Raden Tumenggung Prawironegoro mengangkat Kyai Haji Muhammad Irsyad yang menjabat sebagai Kaum (Lebai/Naib) di desa Solotiyang, Kecamatan Loano untuk mengepalai proyek pemindahan Bedug Kyai Bagelan. Atas kepemimpinan sang Kyai, saat itu oleh para pekerja diangkat secara beramai-ramai diiringi bunyi gamelan lengkap dengan penari tayub yang telah menanti di setiap pos perhentian.

Pohon Beringin Ditengah-Tengah Alun-Alun

Akhirnya setelah melalui perjalanan yang jauh dan melelahkan, Bedug Kyai Bagelen tiba di Masjid Agung Kabupaten Purworejo. Kini, Bedug kyai Bagelen diletakkan di sebelah dalam serambi Masjid. Barang siapa ingin mendengar suaranya, datanglah pada saat Ashar, Maghrib, Isya, Subuh dan menjelang shalat Jum'at. Di samping itu, pada setiap saat menjelang sholat Sunat Idul Fitri dan Idul Adha, acara-acara atau peristiwa-peristiwa keagamaan Islam dan memperingati detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Bedug Kyai bagelen selalu ditabuh untuk memberi tanda dan penghormatan.
Data-data teknis Bedug Kyai Bagelen :

-  Panjang rata-rata = 292 centimeter
-  Garis tengah bagian depan = 194 centimeter
-  Garis tengah bagian belakang = 180 centimeter
-  Keliling bagian depan = 601 centimeter
-  Keliling bagian belakang = 564 centimeter
Read More...

Masjid Kuno Santren Bagelen

on 23.28



Masjid Santren Bagelen adalah masjid tertua di wilayah Bagelen. Didirikan pada tahun 1618, masjid ini berasitektur tradisional Jawa dengan atap tajuk tumpang satu. Konstruksi kayu serta gonjo Masjid Santren sama dengan yang ada di Masjid Menara Kudus dan Masjid Kajoran, Klaten. Ada kemungkinan ketiga masjid ini berasal dari masa pembuatan yang sama. Di sisi utara dan selatan terdapat sederet makam yang diberi cungkup diantaranya terdapat beberapa makam berprasasti.

Serambi masjid terdiri dari dua ruang. Ruang utama berbentuk bujur sangkar berukuran 10x10 m dengan lantai yang didominasi warna hijau. Terdapat 4 tiang soko guru berbentuk bulat dengan diameter 40 cm dan diantara deretan tembok pada ruang utama terdapat 12 buah soko rowo.

Pada salah satu soko rowo di sebelah utara mihrab terdapat prasasti dalam huruf Arab yang berbunyi; “Masjid ini dibangun di negeri yang agung untuk leluhur yang sudah meninggal atas perintah isteri Sultan Mataram, diberikan kepada Ustadz Baidlowi dan sebenarnya yang membuat masjid ini Khasan Muhammad Shufi, semoga ia mendapat ridla Allah, berupa nikmat dunia dan akhirat dan ditetapkan imannya.”
Kisah mengenai Masjid Santren ini tampaknya berawal dari jaman pemerintahan Kerajaan Mataram di bawah Panembahan Senopati, dimana Bagelen merupakan daerah yang memiliki peranan penting sebagai “Negara Agung” yang merupakan daerah di luar wilayah ibukota. Bagelen adalah pertahanan terakhir Mataram sebelum ibukota yang memiliki nilai strategis militer bagi Kerajaan Mataram.

Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung 1613-1645. Pada masa itu hiduplah seorang ulama besar bernama Kyai Baidlowi di daerah Bagelen, yang senantiasa setia membantu Mataram melawan Belanda. Dengan ilmunya yang tinggi, Belanda sering dibuat tak berdaya menghadapi Mataram yang dibantu oleh Kyai Baidlowi.

Atas jasanya yang besar bagi Mataram, isteri Sultan Agung lalu menghadiahi sebuah masjid yang pembangunannya diarsiteki oleh Khasan Muhammad Shufi. Hadiah masjid ini mencerminkan keadaan pertahanan Mataram yang sangat bergantung pada hubungan baiknya dengan Bagelen. Masjid ini sekaligus menandai perkembangan Islam yang telah mencapai wilayah Bagelen di jaman pemerintahan Sultan Agung.

Kyai Baidlowi beserta anaknya RKH Khasan Moekibad dimakamkan di areal masjid ini. Para peziarah di hari-hari besar Islam maupun sehari-harinya banyak yang berkunjung ke tempat ini. Juru kunci yang sampai saat ini mengabdikan dirinya di Masjid Santren Bagelen adalah keturunan langsung dari Kyai Baidlowi.

Lokasi Masjid Santren Bagelen sangat mudah dijangkau, terletak didekat jalur utama Jalan Raya Purworejo-Jogjakarta Km. 11. Atau tepatnya di Pedukuhan Bedug, Desa/Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat untuk menuju lokasi. Jalannya pun cukup mulus karena sudah beraspal, jarak tempuh dari Jalan Raya Purworejo-Jogjakarta hingga lokasi kurang lebih hanya 500 meter.
Read More...

Sunan Geseng, Mubaligh Tanah Bagelen

on 22.55



Judul:  Sunan Geseng: Mubaligh Tanah Bagelen
Penerbit: Lembaga Study dan Pengembangan Sosial-Budaya (Purworejo)
Penulis: Radix Penadi
Cetak: 1998
Tebal: 52 halaman

“Clontang-clantung,
wong nderes buntute bumbung,
apa gelem apa ora?“

(Clontang-clantung,
orang nderes ekornya bumbung/bambu,
apa mau apa tidak?)

Ini adalah tembangan berbau mantra yang selalu diucapkan oleh Ki Cakrajaya, tukang nderes nira kelapa sebelum memanjat pohon nira (aren). Hasil dari nderesan itu kemudian diolah menjadi gula.

Cakrajaya adalah seorang tukang nderes nira kelapa yang hidup miskin di tengah hutan. Dia tinggal di Desa Bedhug, Tanah Bagelen -saat ini Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo-, berada di bantaran aliran Sungai Watukura/Bagawanta. Karena saking miskinnya, dia juga dipanggil “Ki Petungmlarat”. Meskipun demikian, orang mengenalnya sebagai seorang yang kuat bertirakat/tapa brata, sehingga menjadi luhur budinya dan sakti ilmunya. Karenanya, Ki Cakrajaya di-”tua”-kan di wilayahnya.

Suatu hari, ketika Ki Cakrajaya akan memanjat pohon nira -siap dengan mantranya, datanglah seorang yang pembawaannya sangat ‘alim menghampirinya.

“Kisanak, apa sebabnya setiap kali engkau memanjat batang aren selalu mengucapkan kalimat tadi?”

“Itulah mantra agar hasilnya melimpah”, jawab Ki Cakrajaya.

“Ah, apa yang Kisanak ucapkan itu salah dan kurang tepat”.

“Salah dan kurang tepat? Ah, anda rupanya belum kenal denganku. Akulah Ki Cakrajaya, tukang nderes sudah sejak masa kecilku. Itu merupakan ilmu warisan leluhurku dan mantra itupun bukan sembarang mantra!”

“Betul kata-katamu, Kisanak. Tapi aku mempunyai mantra yang lebih unggul, yang akan bisa menghasilkan lebih banyak dari mantramu itu”, kata lelaki ‘alim dengan perbawa mantap dan tegar.

“Buktikanlah, Kisanak!” pinta Cakrajaya.

“Baiklah, ijinkanlah aku melihat cara Kisanak mengolah legen (nira) itu”. Ki Cakrajaya lalu mengajak laki-laki tadi ke rumahnya, lalu mengajarinya. Sang tamu kemudian mencetal gula aren satu tangkap. Cetakan itu diserahkan pada Ki Cakrajaya dengan pesan agar jangan dibuka sebelum dirinya keluar dari Desa Bedhug.

Setelah laki-laki itu keluar dari desanya, Ki Cakrajaya segera membuka cetakan gula. Matanya terbelalak karena isinya bukan lagi gula, melainkan setangkap emas yang berkilauan. Ki Cakrajaya tersadar, bahwa tamunya tadi bukanlah orang sembarangan. Diapun mengejar sang tamu. Dia akhirnya berhasil juga mengejar dan menemukan laki-laki misterius itu, yang tidak lain adalah Sunan Kalijaga; anggota Wali Songo yang termasyhur di kalangan rakyat jelata.

Karena dibuat penasaran, Ki Cakrajaya minta diajarin “mantra sakti” dengan bersedia menjadi muridnya. Sunan Kalijaga kemudian mengajarkan syahadat. Sejak saat itu, Cakrajaya selalu diajak Sunan Kalijaga mengembara dari satu daerah ke daerah yang lain sambil menyebarkan dakwah Islam.

Suatu saat, Sunan Kalijaga pamit ingin sembahyang ke Mekkah -dalam riwayat yang lain dikatakan ke Demak/Cirebon. Cakrajaya diperintahkan untuk menunggu tongkatnya. Cakrajaya kemudian duduk bersila, penuh khidmat. Saking lamanya, tubuh Ki Cakrajaya ditumbuhi rumput belukar, bambu berduri. Tempat bertapanya itu pun berubah. Ketika Sunan Kalijaga teringat bahwa ia telah meninggalkan muridnya, maka datanglah dia ke tempat Ki Cakrajaya menunggui tongkatnya. Karena semak-belukar begitu rimbun dan rapat, maka dibakarlah rumpunan bambu berduri itu. Ajaibnya, Ki Cakrajaya tidak cedera sedikitpun. Hanya kulitnya saja yang berubah menjadi hitam. Karena hitam (Jawa=geseng), maka Sunan Kalijaga memanggil Ki Cakrajaya menjadi “Sunan Geseng“.

Menurut riwayat, proses pembakaran itu menghasilkan nama-nama daerah yang masih ada hingga kini. Misalnya, Muladan. Berasal dari kata ‘mulad‘ (berkobar-kobar). Daerah ini sekarang terletak di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Sunan Geseng terus diajak Sunan Kalijaga mengembara ke arah timur. Suatu ketika Sunan Kalijaga menancapkan tongkatnya, maka muncullah sumber air yang disebut ‘sendang‘ (Danau). Oleh Sunan Kalijaga, Sunan Geseng diminta mandi dan membersihkan tubuhnya yang telah terbakar. Sungguh ajaib, Sunan Geseng pun sembuh. Tubuhnya kembali seperti semula. Kotoran hasil bersih-bersih badan itu kemudian terbawa hingga ke Sungai Kedung Pucung. Dan sendang tempat mandi itu kemudian disebut Sendang Banyu Urip.

Pengembaraan terus berlanjut. Sampailah di suatu daerah, Sunan Kalijaga memberikan wejangan tentang hidup dan ilmu-ilmu Tuhan. Maka daerah itu kemudian disebut Desa Ngajen -dari kata mengaji, yang saat ini berada di Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul.

Menjadi pertanyaan, kapan Sunan Kalijaga berdakwah Islam di Tanah Bagelen? Menurut “Babad Demak” (1906), peristiwa itu terjadi sebelum tahun 1518. Sebelum Demak menyerang Majapahit/Daha. Hal ini diketahui setelah Raden Patah, Ki Ageng Selo, Ki Patih Wanassalam dan Iman Semantri menemui Sunan Kalijaga di Pulau Upih. Sumber naskah lokal Bappeda Purworejo menyebutkan dakwah Sunan Kaijaga ke Bagelen itu terjadi di era Demak di bawah pimpinan Sultan Trenggono (1521-1545). Asumsi ini diperkuat juga oleh Slamet Suyoso dalam bukunya “Peranan Iman Puro” (1976).

Ketika berdakwah di wilayah Bagelen, Sunan Kalijaga (dan Sunan Geseng) telah mendirikan pondok pesantren di Dukuh Watu Belah, sekarang tepatnya di Desa Trirejo, Kecamatan Loano. Lalu Desa Dlangu, sekarang Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo. Juga mendirikan mesjid Loano di Desa/Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo. Kemudian mesjid di Kauman Bagelen.

Catatan lain menyebutkan, pengislaman selatan Jawa Tengah sebelah timur Sungai Lukula dilakukan oleh Sunan Geseng. Di sebelah barat oleh Syekh Baridin, ulama dari Pucang Kembar. Sebelah barat Banyumas oleh Bupati Banyak Balanak dan Syekh Makdumwali (bergelar Senopati Mangkubumi). Sunan Geseng dikarunia hanya satu anak laki-laki yang bernama Joko Bedhug yang juga disebut Nilasraba, yang kelak menjadi adipati pertama Bagelen bergelar Adipati Nilasraba I di era Demak -atau era Mataram menurut “Babad Tjakradjaja“.

Nilasraba I memiliki dua anak; Ki Bumi yang kemudian menjadi Adipati Arya Nilasraba II atau dikenal juga sebagai Ki Karta Menggala, dan adiknya Ki Mentosoro. Demikianlah riwayat tentang Sunan Geseng. Buku ini menjadi sangat menarik -walaupun ada ketidakrelevanannya- karena akan banyak persinggungan dengan buku-buku lain yang nanti akan saya resensikan, seperti: “Babad Demak“, karya Raden Suryadi. Kemudian “Sunan Kalijaga” karya Dr. Purwadi, dan masih banyak yang lain.

Menjadi tidak relevan dari buku ini, ketika cerita tentang Sunan Kalijaga terlihat lebih dominan daripada Sunan Geseng, yang menjadi tokoh sentral sesuai judul. Ketidakrelevanan itu misalnya: cerita tentang request Sunan Kalijaga tentang pembuatan Keris Sengkelat dan Keris Crubuk oleh Mpu Supa -yang di kemudian hari menjadi adik ipar Sunan Kalijaga. Juga cerita tentang pembuatan tiang masjid Demak dari soko tatal. Lalu, cerita tentang menentukan arah kiblat Masjid Demak. Karena dari cerita-cerita tersebut figur sentral sesungguhnya adalah Sunan Kalijaga.

Sumber : aGusJohn’s Blog~*
Read More...